SWA Jakarta – Sinar Mas /blog Fri, 18 Dec 2020 07:55:53 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.9.1 /blog/wp-content/uploads/2016/10/cropped-sm-250x250-32x32.png SWA Jakarta – Sinar Mas /blog 32 32 Siswa Sinarmas World Academy Raih Emas di Kompetisi Robot Dunia /blog/?p=3100 Fri, 18 Dec 2020 07:53:31 +0000 /blog/?p=3100 Tim robotik RoboKnights dari sekolah Sinarmas World Academy (SWA) meraih juara pertama dalam ajang bergengsi dunia, World Robot Olympiad (WRO) 2020-X Canada.

Tema yang diangkat dalam WRO tahun ini adalah Perubahan Iklim (Climate Change). RoboKnights, yang beranggotakan Alisa dari kelas 10, Ayden dan Kevin dari kelas 8, memilih topik “manufaktur lokal untuk pengurangan transportasi”. Melalui kegiatan robotik, suatu kegiatan produksi dapat dilakukan jarak jauh, dan diharapkan dapat mengurangi secara signifikan transportasi manusia. Hal ini akan berdampak pada pengurangan emisi gas rumah kaca, dan memperbaiki iklim dunia.

WRO sendiri merupakan kompetisi internasional robotik terbesar dan paling bergengsi untuk pelajar usia 10 hingga 21 tahun. Kompetisi ini diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2004, dengan tema sosial yang berbeda-beda. Peserta WRO ditantang untuk mengembangkan kreativitas, desain, dan kemampuan problem-solving mereka melalui kompetisi dan aktivitas robot yang menantang dan mendidik. WRO 2020 terpaksa dilakukan secara daring karena pembatasan sosial COVID-19.

Alisa mengaku sangat bangga dan senang dengan pencapaian kelompoknya, “Saya sangat, sangat senang! Kami mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga kami selama enam bulan terakhir dalam proyek ini, dan kami berhasil membawa kemenangan untuk Indonesia,” ucapnya bangga.

RoboKnights merupakan tim Indonesia pertama yang berhasil memenangkan WRO Open Category dalam 2 dekade terakhir ini. Alisa mengatakan, timnya mengaku untuk meraih juara di ajang ini sangat sulit hingga akhirnya juara berhasil diraih maka mereka pun mengaku sangat bangga akan pencapaian ini.

Tantangan yang dihadapi para murid bertambah dengan adanya pandemi COVID-19 yang membatasi kegiatan tatap muka.

“Kami tidak bisa beraktivitas sebebas sebelumnya, tapi kami belajar untuk beradaptasi dengan pertemuan rutin secara daring dan membagi tugas dan peran untuk didelegasikan,” cerita Alisa.

Kelompok RoboKnights mempresentasikan robot ZOID sebagai solusi baru mereka yang disebut sebagai tele-manufacturing. Robot ini mampu mereplikasi gerakan sendi manusia dari bahu, turun ke jari, dan dapat dikontrol dari jarak dekat dan jarak jauh.

Dengan kecanggihan robot ini, kegiatan produksi dapat dilakukan dari lokasi yang berbeda, sehingga mengurangi biaya transportasi manusia.

“Ada dua mode droid. Pertama adalah ‘rekam’ untuk merekam gerakan tangan dari pengguna secara langsung, dan kedua adalah mode ‘otomatis’ yang terus melakukan gerakan tangan yang telah direkam sebelumnya. Kemampuan ini sangat penting di bidang manufaktur karena sebagian besar kegiatan bersifat berulang.” jelas Ayden.

“Partisipasi dan pencapaian mereka telah mendisrupsi pendidikan robotik di Indonesia. Kemenangan ini menjadi bukti potensi Indonesia di bidang STEM dan memperlihatkan evolusi pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Kami bangga menjadi salah satu sekolah pertama yang berinvestasi di STEM dan menjadi institusi pendidikan yang terus mengembangkan keterampilan anak muda” jelas Haoken, Kepala Departemen Sains SWA.

Alisa mengakui bahwa untuk dapat menyelesaikan suatu proyek itu penuh tantangan, terutama di saat pandemi ini. Tapi Alisa berpendapat bahwa ketekunan, dan kerja keras dibutuhkan untuk dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

Alisa mendorong inovator muda lain di luar sana untuk terus mencoba membuat perubahan positif melalui STEM.

“Jangan takut untuk mencoba hal baru. Membuat solusi baru yang inovatif, yang belum pernah terdengar sebelumnya selalu terkesan mustahil- sampai akhirnya dilakukan. Sulit untuk mulai mengambil inisiatif, tetapi lebih sulit lagi untuk terus maju, dan untuk tidak menyerah,” pungkasnya.

Selamat ya!

]]>
Guru Sinarmas World Academy (SWA) Raih Yale Educators Award 2020 /blog/?p=2947 Wed, 16 Sep 2020 03:14:56 +0000 /blog/?p=2947 Stanislav Sousek, guru dari sekolah Sinarmas World Academy (SWA) Tangerang Selatan ini memenangkan Yale Educators Award 2020, dan menjadikannya sebagai satu-satunya pemenang dari Indonesia.

Ajang Yale Educators Award merupakan penghargaan kepada para pendidik berprestasi dari seluruh dunia. Para pendidik yang memenangkan penghargaan itu dinilai telah berhasil mendukung dan menginspirasi siswanya untuk pencapaian tinggi.

Dari 317 nominasi tahun ini, hanya 57 guru dan 24 konselor yang terpilih. Dari jumlah itu, hanya 3 di antaranya berasal dari Asia, termasuk salah satunya Stanislav dari Indonesia. Tapi, bagaimana Stanislav bisa menang penghargaan itu?

Dalam penilaian, Yale Educators Award mengundang para mahasiswa Yale untuk menominasikan pendidik sekolah menengah yang mereka anggap inspiratif dan mengubah hidup mereka secara positif. Salah seorang mahasiswa Yale tersebut adalah anak didik Stanislav sewaktu di SWA. Dia adalah Vijjasena Sugiono, lulusan sekolah Sinarmas World Academy (SWA), dan penerima beasiswa dari Yale University.

Di SWA, Stanislav Stanislav merupakan konselor universitas atau university guidance counselor (UGC) di SWA yang membimbing siswa-siswi sekolah menengah mempersiapkan diri menuju sekolah tinggi. Siswa SWA diajak berpikir tentang tujuan mereka belajar, serta dampak positif apa yang ingin mereka berikan kepada dunia. Bibit pemikiran inilah yang ditanamkan, dan dipupuk hingga akhirnya murid dapat menentukan tujuan mereka, dan melakukan persiapan yang matang dalam menentukan sekolah tinggi.

Vijjasena merasa bersyukur saat sekolah di SWA, Ia mendapatkan bimbingan dan dukungan yang luar biasa dari UGC SWA, Stanislav.

“Dia (Stanislav), dengan tulus dan semangat mendukung saya dalam proses persiapan sekolah tinggi. Dukungan dan bimbingan yang diberikan jauh lebih besar dari yang sebenarnya diwajibkan,” ujar Vijjasena.

Tak hanya itu saja, Vijjasena juga merasa dengan bantuan dan bimbingan Stanislav, maka Vijjasena bisa kuliah di Yale University.

“Bahkan Stanislav selalu siap membantu saya di saat-saat istirahat makan siang maupun hari libur,” kata Vijjasena.

Namun, Vijjasena juga tetap merasa bahwa semua guru di SWA juga berperan besar dalam perjalanannya menyelesaikan studi sekolah menengahnya di SWA. Selain keahlian dan kepintaran para guru, yang sangat dirasakan berbeda adalah kepedulian dan perhatian mereka dalam memaksimalkan perkembangan dirinya.

General Manager SWA, Deddy Djaja Ria menyatakan sangat bangga dengan raihan yang diterima oleh salah seorang guru SWA.

“Sungguh kami bangga dengan para pendidik SWA yang bukan hanya kaya ilmu pengetahuan, tapi juga selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi para siswa-siswinya. Ddedikasi, kualitas bimbingan, dan kepedulian Stanislav terhadap anak didiknya merupakan contoh dari standar dan kultur yang dimiliki SWA,” jelas Deddy.

Stanislav menjadikan penghargaan ini sebagai suatu kehormatan untuk dinominasikan oleh Vijjasena.

“Sebagai seorang pendidik, selalu menyenangkan mengetahui kita membuat perbedaan yang memberikan efek positif bagi anak didik kita,” jelas Stanislav.

Ibunda Vijjasena, Selina Rachmat mengatakan bahwa Stanislav dan guru lain di SWA adalah guru yang luar biasa. Menurut Selina, guru di SWA itu dapat membuka wawasan anak dan menyederhanakan konsep rumit untuk mampu diterima di tingkat pandangan anak. Konsep itu lalu diaplikasikan dalam kehidupan nyata hingga suatu konsep secara mendalam dipahami, bukan sekadar dihafal.

“Terlihat sekali tidak hanya ilmu pendidikan yang diterapkan oleh para guru, melainkan juga kepekaan hati untuk memberi yang terbaik,” tandas Selina.

]]>
SWA Berikan Para Siswa Kesempatan Untuk Berbagi Pada Komunitas /blog/?p=2926 Fri, 21 Aug 2020 04:09:32 +0000 /blog/?p=2926 Tugas pelajar adalah belajar. Tapi, belajar tak semata-mata mengejar nilai. Jauh lebih penting dari itu, para generasi muda ini juga harus mampu menggunakan ilmu dan pengetahuannya untuk hal-hal yang berdampak positif.

Meyakini bahwa pendidikan anak tidak hanya sekadar belajar di dalam kelas, Sinarmas World Academy (SWA) memberikan mata pelajaran Creative, Action, Service (CAS) yang memberikan kesempatan pada muridnya untuk berkontribusi kepada komunitas dan merefleksikan diri dari pengalaman mereka tersebut.

“CAS merupakan bagian bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan dan pendidikan murid, karena merupakan wadah untuk experiential learning. Mulai dari kelas 6, siswa sudah mulai dibimbing untuk merencanakan, menjalankan dan merefleksikan service projects yang berarti bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya. Pada kelas 11 dan 12, mereka memimpin inisiatif bermanfaat secara kolaboratif dan tertanam rasa peduli terhadap isu-isu sosial di sekelilingnya.” jelas Elma Moeloek selaku guru pembimbing CAS SWA dalam webinar bertema More Than Just Grade, Jumat (14/8/2020).

Sebelum pandemi Covid-19 dan pembatasan fisik diberlakukan, kegiatan CAS Riviera English, di mana murid SWA mengajarkan bahasa inggris kepada SD negeri setempat, dan United We Ball yang mengundang anak-anak untuk belajar bermain basket menggunakan fasilitas SWA, secara rutin dilakukan.

Dengan pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi, murid SWA berupaya berkontribusi melalui inisiatif kegiatan CAS seperti Project 4Hope, di mana murid menggalang dana, memproduksi APD untuk didistribusikan ke rumah sakit. Ada juga inisiatif Industrial Safeguard Initiative (ISI), yang membuat face-shield untuk tenaga medis di seluruh Indonesia, dan inisiatif TelurBagiBangsa, yang membagikan telur untuk masyarakat kurang mampu yang terdampak Covid19 dan memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Dengan adanya pandemi Covid-19, partisipasi anak muda dalam kegiatan relawan dan sosial memang sangat diperlukan.

“Anak muda harus mau membantu, bergerak. Tantangan utama saat ini bukanlah ketidaktahuan. Banyak anak muda yang pintar dan aware banyak hal, tapi yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana mengubah perilaku, yang bukan hanya tahu tapi mengerti dan mau melaksanakannya,” jelas Andre Rahadian, S.H., LL.M., M.Sc. selaku Ketua Tim Koordinasi Relawan Gugus Tugas Covid 19, dan Ketua Umum ILUNI UI 2019-2022.

Melalui kegiatan relawan kolaboratif, para pelajar dan generasi muda diajarkan bukan hanya pengetahuan baru, namun juga nilai etika, simpati, empati, dan kesempatan mengasah soft skills lainnya seperti kolaborasi, komunikasi, kemandirian, creative-thinking, pengaturan waktu, adaptasi, semangat gotong-royong, strategic thinking, dan problem-solving. Generasi penerus bangsa, tidak cukup hanya mengejar nilai, tapi harus membawa prestasi bagi Indonesia dan dampak positif di manapun mereka berada.

 

Sumber: Suara

]]>
Siswa Sinarmas World Academy Raih Pendanaan MYP Innovators Grant /blog/?p=2896 Fri, 24 Jul 2020 03:04:10 +0000 /blog/?p=2896 Inovasi para murid sekolah Sinarmas World Academy (SWA) mengantar mereka memenangkan ajang pendanaan internasional Middle Years Programme (MYP) Innovator’s Grant yang diselenggarakan oleh International Baccalaureate Organization (IBO).

Penelitian yang dilakukan oleh siswa  kelas 10 tersebut menempatkan mereka sebagai tiga dari empat wakil asal Indonesia yang mendapatkan pendanaan masing-masing hingga sebesar USD10,000.

“Keberhasilan ini adalah sebuah prestasi untuk pendidikan Indonesia, dan kami sangat bangga terhadap capaian Rania, Chris, dan Leon. Karya dan penelitian mereka bukan hanya menunjukkan kepintaran tapi juga kepedulian terhadap permasalahan dunia dan sekitar, sesuai dengan nilai dasar yang ditanamkan sejak dini oleh SWA. Kami sebagai sekolah bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi juga mendidik dan membina karakter positif melalui lingkungan belajar yang baik,” ungkap Deddy Djaja Ria selaku General Manager sekolah SWA,

Keprihatinan Rania terhadap limbah plastik membuat dirinya meneliti proses penguraian plastik menggunakan jamur. Di sana Rania menganalisis bagaimana jamur dapat mengubah polimer menjadi produk biodegradable yang dapat digunakan dalam aktivitas pertanian,bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif.

Rania – Siswa Kelas 10 SWA

“Penelitian saya berfokus pada degradasi plastik dengan memanfaatkan mekanisme pemecahan jamur yang mengubah polimer menjadi senyawa organik kecil, yang lalu diserap dan diasimilasi oleh jamur. Melalui penelitian ini, saya berharap manusia dapat satu langkah lebih dekat dalam menghilangkan limbah plastik,” ungkap Rania.

Sama halnya dengan Rania, Chris mempunyai semangat besar menyelesaikan permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah plastik dan energi tidak terbarukan. Ketertarikannya yang mendalam pada biologi sintetis dan bioengineering – ia menjabat selaku Ketua kelompok penelitian BioBuilder di SWA – membawanya meneliti penggabungan elemen degradasi plastik oleh bakteri dan sel bahan bakar biologis, untuk membuat plastik bekas sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik.

Chris – Siswa Kelas 10 SWA

“Sebagian besar daerah pedesaan kesulitan pasokan listrik, namun banyak terdapat sampah plastik. Melalui penelitian ini, saya harapkan tersedia sumber energi bersih yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi limbah plastik di lingkungan pedesaan yang indah,” jelas Chris.

Berbeda dengan Rania and Chris, sebagai sesama pemenang MYP Innovator’s Grant, Leon memiliki kepedulian terhadap kultur dan budaya Indonesia, tepatnya budaya Jawa. Menurutnya dengan semakin kuatnya globalisasi dan modernisasi, budaya leluhur banyak yang terlupakan. Leon menolak membiarkan budaya keluarganya hilang dengan membuat aplikasi iOS bernama SIJI, yang merupakan aplikasi pembelajaran bahasa Jawa Kuno, atau dikenal sebagai aksara Kawi.

Leon – Siswa Kelas 10 SWA

“Melalui SIJI, saya berharap dapat melestarikan budaya Jawa dan sistem penulisannya yang hampir hilang. Menggunakan  iOS, pembelajaran menjadi menyenangkan dan memudahkan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya harap semua orang dapat memakainya, termasuk orang-orang non-Jawa, dan non-Indonesia untuk belajar bahasa serta aksara Jawa, sekaligus mengenal keindahannya,” Leon berkata.

Deddy mengharapkan prestasi ini menginspirasi dan memotivasi pelajar lain di Indonesia untuk terus berkarya.

“Anak muda Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Dengan senantiasa membimbing, menanamkan dan membina mereka dengan nilai-nilai yang positif, kami yakin, kita dapat membuat sesuatu dan berkontribusi bagi permasalahan sekitar, bahkan dunia melalui teknologi dan penemuan-penemuan mutakhir,” tambahnya.

MYP Innovator’s Grant merupakan ajang pendanaan bagi siswa manca negara untuk memperkaya keterampilan dan pengalaman mereka dalam bertumbuh menjadi pemimpin, inovator, dan wirausahawan yang peduli akan permasalahan dunia dan sosial.

Setiap karya dan penelitian yang terpilih akan mendapatkan pembiayaan hingga sebesar USD10,000 untuk pengembangan karya dan penelitian lebih jauh. Sebanyak 33 pemenang, terpilih berdasarkan ide dan dampak dari karya mereka.

“Kami percaya anak-anak muda dapat secara positif mengubah dunia melalui ide dan tindakan mereka. MYP Innovator Grant merupakan uluran tangan untuk inovator muda di seluruh dunia, sehingga mereka memiliki alat yang mereka butuhkan untuk menanggapi tantangan global, nasional dan lokal secara maksimal dan optimistis,” Jelas Dr. Siva Kumari, Direktur Jenderal IBO.

 

Sumber: Suara Tangsel

]]>
Sinarmas World Academy Ajarkan Anak Kegiatan Amal dengan Melukis Daring /blog/?p=2856 Wed, 08 Jul 2020 03:20:31 +0000 /blog/?p=2856 Ada banyak cara orang tua mengajarkan anak beramal. Sekolah Sinarmas World Academy (SWA) memilih cara mengajarkan amal pada anak dengan memberikan kegiatan melukis secara daring.

Kegiatan yang bertema “The Art of Giving” ini dilakukan pada Sabtu, 27 Juni 2020 ini diikuti oleh lebih dari 30 pasang ibu dan anak dari seluruh Indonesia. Selain keuntungan penjualan tiket acara, penghasilan dari pelelangan lukisan pada saat acara juga disumbangkan kepada TEENCOV19, sebuah organisasi nirlaba yang memproduksi dan mendistribusikan face-shield.

Marketing Manager SWA sekaligus Ketua Penyelenggara SWA Charity 2020 ‘The Art of Giving”, Cynthea Tanu mengatakan bahwa melalui acara ini orang tua diajak untuk mengajarkan dan memberi contoh langsung kepada anak untuk berbuat baik dan membantu membantu sesama.

“Harapan utama kami, melalui acara amal ini, anak diajarkan nilai berbagi, kepedulian dan kebersamaan. Kami kemas acaranya dengan kegiatan seru dengan melibatkan orang-tua karena kami percaya orang-tua adalah pendidik utama terdekat dengan anak-anak,” kata Cynthea.

Peserta yang memenangkan lelang lukisan pada acara The Art of Giving, Patricia, sangat menyukai acara itu. Patricia berharap acara yang menarik dan seru itu bisa menumbuhkan rasa kepeduliannya terhadap sesama.

“Ini adalah pertama kalinya anak saya ikut acara amal. Saya sangat senang bisa bersama anak saya berpartisipasi dan berkontribusi langsung untuk kebaikan. Karena dilakukan bersama-sama jadi seru dan semangat” kata Patricia.

Sekolah SWA percaya bahwa selain pengetahuan, nilai kemanusiaan juga sama pentingnya untuk ditanamkan sejak dini, dan sudah merupakan tanggung jawab sekolah dan orangtua dalam menumbuhkan nilai nilai positif dalam diri anak.

TEENCOV19 sendiri merupakan organisasi nirlaba yang dimulai oleh murid-murid SWA yang turut mengundang murid dari sekolah lain bergabung memproduksi dan distribusi face-shields disaat pandemi Covid-19 ini masih belum teratasi.

“Dengan nilai kemanusiaan yang kuat, anak akan tumbuh menjadi pemimpin pemimpin muda yang membawa dampak positif di dunia. Tanpa nilai kemanusiaan yang kuat, kepintaran saja tidak cukup untuk merubah dunia” kata Cynthea.

]]>
SWA Ajak Masyarakat Melukis Sekaligus Beramal Bersama Anak /blog/?p=2793 Wed, 17 Jun 2020 05:44:49 +0000 /blog/?p=2793 Sinarmas World Academy (SWA) kembali menyelenggarakan acara charity, tahun ini mengusung tema “THE ART OF GIVING”. Kegiatan ini berupa workshop melukis yang dilakukan secara online untuk ibu dan anak di rumah.

Seluruh keuntungan yang didapatkan dari acara ini akan disumbangkan kepada TEENCOV19, organisasi non-profit yang diinisiasi oleh murid SWA untuk membuat dan mendistribusikan face-shield ke klinik dan rumah sakit di Indonesia. Acara yang turut melibatkan peran orang tua, dan dibuka untuk umum ini akan diselenggarakan pada 27 Juni 2020 mendatang.

“Kegiatan charity ini merupakan kegiatan rutin sekolah SWA setiap tahunnya. Tahun lalu kami mengadakan kegiatan educative talkshow untuk breast cancer dan menggalang dana yang disumbangkan ke Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Tahun ini dengan situasi pandemic COVID-19 dan “new normal”, kami memutuskan untuk mengadakan acara online painting-workshop yang diharapkan selain menjadi solusi untuk kegiatan edukatif di rumah untuk ibu dan anak juga mengajak mereka berkontribusi dalam pembuatan dan pembagian face-shield,” kata General Manager SWA Deddy Djaja Ria, Selasa (16/6/2020).

Sebelumnya pada April 2020, disamping acara charity THE ART OF GIVING ini, melalui gerakan #SWAuntukINDONESIA, komunitas SWA telah berhasil mengumpulkan dana lebih dari IDR 120 juta yang di donasikan untuk pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di seluruh Indonesia.

“Kegiatan melukis, dan kesenian lainnya sangat penting, terutama untuk anak-anak. Melukis dapat membantu anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, saat kosa kata mereka masih belum sempurna. Ekspresi mereka tertuang melalui permainan warna dan bentuk. Melukis melatih kreatifitas di saat bersamaan juga membiasakan anak mengambil keputusan,” terang konselor sekolah SWA Ms. Laurensia Lindi, M.Psi, Psi.

SWA sendiri memperkenalkan melukis dan kesenian kepada anak murid sejak dini, dengan setiap kegiatannya disesuaikan dengan umur dan perkembangan fisik dan emosi anak. Lindi menambahkan, bahwa dengan secara konsisten dan bertahap memperkenalkan kegiatan seni kepada anak, akan sangat membantu anak tumbuh menjadi individu dengan kemampuan critical dan creative-thinking, teamwork, flexibility dan empati”.

Selain kelas seni untuk murid, SWA juga memfasilitasi kelas melukis bagi para orang-tua murid yang tertarik untuk mendalami seni melukis. Hasil karya para murid bisa dilihat melalui tautan https://bit.ly/ARTSWA

“Melalui acara THE ART OF GIVING, orang-tua dapat mengajarkan kepada anaknya bahwa berbuat baik dan membantu memerangi COVID-19 juga dapat dilakukan dengan menyenangkan dan seru. Harapan utama dari kegiatan ini tentu saja agar lebih banyak orang-tua yang ikut mengajak anak dalam melakukan kontribusi ke masyarakat, karena kami percaya orang-tua adalah pendidik utama anak-anak,” ungkap Marketing Manager SWA sekaligus Ketua Penyelenggara SWA Charity 2020 – THE ART OF GIVING, Cynthea Tanu.

SWA Charity 2020-THE ART OF GIVING
]]>
Siswa SWA Ajak Anak Muda Lawan Covid19 dengan Membuat Faceshield /blog/?p=2697 Wed, 29 Apr 2020 05:46:24 +0000 /blog/?p=2697 Dalam upaya menghadapi Covid-19, khususnya bagi tenaga medis yang menjadi benteng terakhir serangan virus ini, siswa sekolah Sinarmas World Academy (SWA), Vijjasena Sugiono (Sena) memulai inisiatif TEENCOV19 yang mengajak anak murid dari sekolah lainnya untuk membuat faceshield yang dibagikan ke klinik dan rumah sakit di wilayah Jabodetabek.

TEENCOV19 saat ini memiliki anggota lebih dari 15 murid dari sekolah SWA, JNY, SMAN2, Stella Maris, dan Quiver Center Academy, serta mampu memproduksi lebih dari 600 faceshield per minggunya. “Kami pastikan setiap faceshield ini dibuat sesuai standar yang perlu diperhatikan agar aman untuk digunakan para tenaga medis. Desain faceshield ini mengacu kepada anjuran Alkes DKI dan sudah disetujui desainnya oleh Rumah Sakit,” Jelas Sena.

Howard, siswa SWA, anggota TEENCOV19 sedang membuat faceshield.

“Kita juga memilih siswa berdasarkan rekomendasi guru dan kepala sekolah, karena pembuatan faceshield yang berkualitas memerlukan komitmen dan tanggung-jawab. Faceshield ini akan digunakan oleh tim medis yang terpapar langsung dengan Covid-19, hal terakhir yang kami inginkan adalah memberi barang berkualitas rendah yang membahayakan tim medis,” tambahnya.

Saat ini, TEENCOV19 sudah berhasil membagikan lebih dari 1,100 faceshield ke 15 instansi berbeda di wilayah Jakarta, di antaranya termasuk RS Zaharia, RSUD Kramat Jati, dan Kantor Walikota Jakarta Barat. Sena sendiri tidak menyangka bahwa antusiasme teman-temannya begitu besar.

Ucapan Terima Kasih dari Penerima Faceshield TEENCOV19 (RS Zahirah).

“Awalnya, saya pikir hanya teman dekat yang akan merespon. Di luar ekspektasi, tanggapan dari siswa lain sangat luar biasa, mereka bahkan langsung ikut membantu produksi, promosi, dan penggalangan dana. Semua ini  dilakukan dengan semangat di tengah kesibukan beradaptasi pembelajaran online. Saya sangat bersyukur memiliki lingkungan yang luar biasa, yang penuh inisiatif dan empati,”  ucap Sena.

Vijjasena, pencetus TEENCOV19 membuat faceshield.

Untuk 1 faceshield dibutuhkan biaya sebesar 5,000 rupiah. Pada fase awal, seluruh biaya pembuatan ditanggung oleh murid sendiri, namun seiring dengan bertambahnya kapasitas produksi biaya pembuatan bertambah dan TEENCOV19 mulai melakukan penggalangan dana melalui kitabisa.com. Pihak sekolah dan orangtua pun mendukung penuh kegiatan ini, dengan membantu mempromosikan TEENCOV19 seluas mungkin.

“Inisiatif yang dilakukan murid dalam gerakan TEENCOV19 ini sungguh menjadi kebanggaan kami, bukan saja sebagai sekolah tapi juga sebagai bangsa Indonesia. Mereka mendemonstrasikan bukan hanya kepintaran, tapi juga besarnya nilai kemanusiaan, kemampuan bekerja sama dalam bermasyarakat.” tegas Deddy Djaja Ria selaku General Manager SWA.

Anton Mailoa, Board Chairman SWA melakukan inspeksi terhadap faceshield TEENCOV19.

Meskipun Covid-19 membawa banyak duka, namun di saat yang bersamaan, situasi ini membangkitkan rasa kebersamaan kita sebagai warga negara Indonesia, dan bahkan warga negara dunia. Rasa kebersamaan ini mendorong masing masing dari kita untuk peduli dan memberikan bantuan yang mampu kita lakukan dalam limitasi peran kita di masyarakat.

“Momen mengharukan adalah ketika melihat faceshield kami sampai dan dipakai oleh para tenaga medis. Suatu kebanggaan untuk bisa melihat hasil kerja kami yang belum seberapa ini, membantu melindungi mereka yang berjuang melawan Covid-19 di garis depan. Kita bersatu, dan saling menjaga satu sama lain melewati masa pandemi Covid-19 ini,” tambah Sena.

]]>
#SWAuntukIndonesia: Saat Siswa Berdonasi Memerangi Covid-19 /blog/?p=2678 Fri, 24 Apr 2020 05:22:10 +0000 /blog/?p=2678 Para siswa Sinarmas World Academy (SWA) bahu-membahu membantu tenaga medis di Kota Tangerang Selatan melawan Covid-19 dengan menyisihkan uang tabungan mereka.

Melalui program donasi #SWAuntukINDONESIA berhasil terkumpul donasi lebih dari 120 juta rupiah untuk pengadaan alat pelindung diri (APD). Selanjutnya APD ini disumbangkan ke EKA Hospital BSD, dan ke rumah sakit lainnya melalui posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kota Tangsel, serta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pemprov DKI Jakarta.

Donasi diserahkan langsung oleh Board Chairman SWA Anton Mailoa, dan General Manager SWA Deddy Djaja Ria kepada Commercial Director EKA Hospital Dr. James Carlos dan Chief Operating Office EKA Hospital drg. Rina Setiawati (23/4).

“Gerakan #SWAuntukINDONESIA ini menjadi wadah kepedulian komunitas kami terhadap pengabdian tenaga medis. Bukan hanya orang dewasa, tapi kita melihat murid kami ikut menyumbangkan uang tabungan mereka untuk membantu pengadaan APD ini. Sungguh suatu kebanggan melihat siswa memiliki kepedulian dan nilai kemanusiaan yang kuat meskipun mereka masih terbilang muda,” jelas Deddy.

Salah seorang siswa, Daniel Sawai mengaku merasa bertanggung jawab untuk dapat membantu para tenaga medis melalui pengadaan APD.

“Saya merasa sangat bersyukur berada di komunitas yang peduli dengan situasi saat ini. Kepedulian dan semangat ini yang memungkinkan saya dapat ikut menyalurkan APD untuk tenaga medis. Dalam situasi ini, kita saling menjaga satu sama lain,” tambah Daniel.

]]>
Pendidikan Anak Usia Dini, Apa yang Harus Dicermati oleh Orangtua? /blog/?p=2148 Sun, 04 Nov 2018 02:00:59 +0000 http://www.sinarmas.com/blog/?p=2148 Pendidikan anak usia dini sejatinya adalah sebuah investasi jangka panjang untuk anak meraih kesuksesan di masa mendatang. Berkaca pada hal itu, setiap orangtua tentu menginginkan pendidikan terbaik untuk buah hatinya.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, bagaimana cara orangtua memilih lembaga pendidikan anak usia dini atau pre-school yang tepat untuk putra-putrinya? Serta faktor apa saja yang harus dicermati dalam pemilihan tersebut?

Pada dasarnya, melansir artikel Kompas.com pada Jumat, (22/1/2016), pendidikan terbaik akan dapat diperoleh anak ketika metode dan sistem pembelajaran di kelas sesuai dengan gaya belajar mereka.

Oleh karena itu sebelum menentukan pilihan sekolah mana yang akan dimasuki, sebaiknya orangtua harus terlebih dahulu mengetahui kemampuan dan kebutuhan si buah hati. Hal ini untuk memastikan anak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan menyenangkan tanpa merasa tertekan.

Kemudian, setelah itu barulah orangtua bisa melihat faktor lainnya yang wajib dicermati saat menentukan pre-school untuk anak. Berikut pembahasannya.

1. Tenaga pendidik yang cakap

Baik atau tidaknya kualitas pre-school yang akan dipilih bisa dilihat lewat tenaga pendidiknya. Kerap disebutkan bahwa tenaga pendidik atau guru adalah ujung tombak yang menentukan anak akan belajar dan bermain dengan menyenangkan atau tidak.

Selain harus memiliki background pendidikan yang sesuai, seorang guru juga harus cakap dalam memberikan pengajaran yang baik agar mereka nyaman berada di kelas.

“Hal utama yang harus dilakukan guru adalah membuat anak didik nyaman terlebih dahulu berada di kelas. Jika hal tersebut sudah tercapai, maka mereka akan memiliki rasa trust kepada guru sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal,” ungkap Koordinator Guru Early Years Sinarmas World Academy, Len kepada Kompas.com, Jumat (6/10/2018).

Lebih lanjut, seorang guru juga harus pandai melihat perkembangan dan hal apa saja yang dibutuhkan anak. Terlebih bila anak memiliki masalah dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru yang baik akan mengkomunikasikan kepada orangtua tentang perkembangan maupun kendala-kendala yang mungkin saja dihadapi si buah hati.

2. Lingkungan sekolah

Hal selanjutnya yang harus dicermati dalam memilih pre-school adalah lingkungan sekolah (environment) itu sendiri. Perhatikan, apakah sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai atau tidak?

Selain itu cermati juga ruang belajar anak didik. Melansir artikel Kompas.com, Senin (21/5/2018), ruang belajar yang baik bagi siswa pre-school harus memiliki furnitur yang sesuai ukuran dengan tubuh anak-anak. Dengan begini mereka bisa mengambil barang yang dibutuhkannya sendiri tanpa bergantung kepada orang dewasa.

Komposisi jumlah murid dengan guru juga harus disesuaikan dengan ruang kelas. Jangan sampai kelas terasa penuh dan sesak. Co-Principal Early Years and Elementary School SWA Kelly mengungkapkan, idealnya jumlah siswa dalam satu kelas berjumlah 6-15 anak.

“Hal ini supaya anak didik dapat lebih nyaman berada di kelas dan guru bisa melihat perkembangan masing-masing anak dengan lebih fokus,” jelasnya kepada Kompas.com.

Siswa-siswa preschool Sinarmas World Academy.

3. Nilai dasar atau filosofi sekolah

Setiap sekolah mempunyai nilai dasar dan filosofinya masing-masing. Meskipun secara kasat mata komponen ini tidak banyak diperhatikan oleh orangtua, tetapi nyatanya hal ini sangat penting. Sebab, nilai dasar dan filosofi sekolah menentukan bagaimana budaya belajar mengajar di kelas berlangsung.

Hal terpenting yang harus Anda lakukan sebagai orangtua adalah kenali terlebih dahulu nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh sekolah. Kemudian, sesuaikan pula dengan kebutuhan anak Anda, apakah kepribadian dan gaya belajar si anak cocok atau tidak.

4. Penggunaan kurikulum

Kurikulum dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam sebuah pendidikan. Kurikulum yang tepat akan dapat memberikan pembelajaran yang sesuai sehingga proses belajar mengajar pun akan berjalan lancar.

Oleh karena itu, penting hukumnya menerapkan kurikulum yang tepat untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas. Hal ini seperti yang diterapkan oleh Sinarmas World Academy (SWA).

“Pada pendidikan anak usia dini, ada beberapa tahapan berbeda yang dimiliki anak sesuai usianya. Dalam hal ini berarti beda usia maka beda skills juga yang akan dipelajari,” ungkap Kelly.

Melihat fakta tersebut, SWA menggunakan dua kurikulum yang berbeda sesuai dengan tahapan usia anak, yakni Early Years Foundation Stage (EYFS) dan Cambridge Primary Curriculum Stage 1.

“Kurikulum EYFS digunakan untuk kelas Toddler (0-2 tahun), Nursery (2-3 tahun), Pre Kindergarten (3-4 tahun), dan Kindergarten 1 (4-5 tahun). Kami menilai kurikulum ini cocok untuk mereka karena menyeimbangkan kegiatan bermain dan belajar,” jelas Kelly.

Pada tahap ini peserta didik difokuskan pada empat area pembelajaran, seperti pendidikan literasi, matematika dasar, seni dan desain ekspresif, serta pengetahuan dasar komputer dan robotik.

Setelah anak bertambah usia pada rentang 5-6 tahun, lanjut Kelly, mereka akan masuk ke dalam kelas Kindergarten 2.

“Pada kelas ini kami menggunakan Cambridge Primary Curriculum Stage 1 yang berfokus pada persiapan peserta didik masuk ke jenjang berikutnya, yakni sekolah dasar,” ujarnya lagi.

Pembelajaran komputasi matematika mulai dikenalkan di kelas ini. Selain itu, pelajaran ilmu pengetahuan alam, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan kesenian juga mulai difokuskan.

Selain pentingnya keberadaan kurikulum, ternyata peran orangtua terhadap perkembangan anak usia dini di sekolah juga mempunyai posisi yang strategis.

“Orangtua harus berlaku supportive, cooperative, dan open minded dalam pendidikan anak usia dini. Selain itu, komunikasi yang apik juga harus terjalin antara orangtua dan guru, jadi terjalin hubungan yang terbuka,” ujar Kelly.

Dengan begitu, diharapakan siswa usia dini bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas sebagai bekal untuk mengecap pendidikan selanjutnya.

 

Sumber

]]>
Catat, Ini Pentingnya Keseimbangan Otak Kiri dan Otak Kanan /blog/?p=2105 Thu, 11 Oct 2018 08:34:12 +0000 http://www.sinarmas.com/blog/?p=2105 Kerap dikatakan bahwa anak yang pintar berhitung pasti otak kirinya lebih dominan. Sementara anak yang lihai dalam bidang kesenian memiliki otak kanan yang lebih aktif. Benarkah?

Jika berbicara mengenai fungsi otak, mungkin kita harus memutar balik waktu menuju tahun 60an, di mana seorang ahli neuropsikolog asal Amerika Serikat, Roger Sperry melakukan riset tentang otak manusia. Lewat penelitian yang memakan waktu lebih kurang sepuluh tahun itu, Roger menemukan bahwa ternyata otak manusia terdiri atas dua bagian.

Menurutnya, kedua belah otak ini saling memberi informasi. Belahan otak kanan, misalnya, bertugas mengendalikan otot-otot di bagian kiri tubuh. Sementara otak belahan kiri mengontrol otot di bagian sebaliknya. Menurut penelitian Roger pula, secara umum belahan otak kiri sangat dominan dalam fungsi bahasa verbal. Selain itu bagian ini juga mengerjakan fungsi logika dan komputasi matematika. Bisa dibilang bahwa otak kiri merupakan pengendali intelligent quotient (IQ). Fungsi tersebut ternyata tidak ditemui pada otak bagian kanan. Hal ini karena otak kanan lebih berfungsi dalam pengembangan emotional quotient (EQ).

Di samping itu, otak kanan juga berhubungan dengan kemampuan intuitif seni (seperti menyanyi, menari, melukis), kemampuan merasakan, pusat khayalan dan kreativitas, serta pengendalian ekspresi manusia. Setelah melihat hasil riset di atas mungkin Anda akan bertanya, “sebaiknya otak bagian mana yang harus diunggulkan?”.

Pada dasarnya, otak secara alami akan selalu menjaga keseimbangan dan bertugas membagi kontrol beberapa fungsi.  Pembagian fungsi ini juga dimaksudkan agar otak bekerja secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus Anda ketahui adalah bagaimana kedua bagian otak tersebut menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya.

Kreativitas, aktivitas, dan pelayanan 

Sekolah menjadi wadah yang tepat untuk mengembangan dan menyeimbangkan fungsi otak. Hal ini karena siswa dapat mengikuti beberapa kegiatan yang sesuai bakat dan minatnya. “Sekolah mempunyai peran untuk bisa mengarahkan mereka (siswa) memiliki keterampilan yang seimbang,” ujar Ahmad, salah satu tenaga pendidik Sinarmas World Academy kepada Kompas.com, Selasa (25/9/2018).

Oleh karena itu, lanjut Ahmad, ada baiknya sekolah juga memiliki program yang lebih spesifik untuk mengekspresikan potensi diri siswa. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Sinarmas World Academy (SWA) melalui program Creativity, Activity, and Service (CAS).

Sesuai namanya program tersebut memiliki tiga komponen kegiatan. Pertama ada creativity atau kreativitas. Pada komponen ini siswa diberikan keleluasaan untuk bisa mengembangkan otak kanan mereka melalui kegiatan-kegiatan kesenian.

Selain itu siswa juga bisa melakukan eksplorasi dengan memperluas ide mereka menjadi sebuah karya yang orisinal atau interpretatif. Salah satu contohnya mereka bisa bergabung ke dalam sebuah grup musik. Di sana selain siswa bisa belajar mengolah vokal dan meningkatkan kemampuan bermusik, mereka juga dituntut untuk berkarya dengan mengadakan acara musik di lingkungan sekolah.

Selanjutnya activity atau aktivitas. Pada komponen ini siswa akan melakukan aktivitas fisik yang berkontribusi terhadap gaya hidup sehat. Kemudian komponen terakhir service atau pelayanan. Pada komponen ini para siswa harus menunjukkan keterlibatan kolaboratif dengan masyarakat umum, misalnya lewat mengajarkan bahasa Inggris, membangun perpustakaan untuk masyarakat, atau berkolaborasi membuat karya seni melalui berbagai komunitas.

Menjadi komponen kelulusan di Sinarmas World Academy, program CAS hanya diperuntukkan bagi siswa middle school dan high school. Selain dijadikan sebagai program wajib, CAS juga digunakan sebagai salah satu komponen kelulusan siswa. Adapun beberapa outcome yang diharapkan dari program ini, beberapa di antaranya adalah siswa dapat mengidentifikasi kekuatan sendiri dan mengembangkan area untuk pertumbuhan pribadi, menunjukkan bahwa mereka bisa menaklukkan tantangan dan mengembangkan keterampilan baru, mencatat setiap proses yang telah mereka lalui, serta dapat menunjukkan komitmen dan ketekunan saat mengikuti kegiatan.

Di samping itu, mereka juga mendapatkan pengalaman akan manfaat bekerja secara kolaboratif, menunjukkan keterlibatan dengan isu-isu global, dan terakhir dapat mempertimbangkan pilihan dan tindakan yang akan mereka pilih. “Dari semua kegiatan itu, salah satu hal yang paling penting adalah siswa bisa menikmati proses yang mereka jalani. Jadi selain dapat menyalurkan energi dan hobi mereka ke arah positif, mereka juga bisa lebih mengekspresikan dirinya lebih baik,” ujar Ahmad.

Optimalkan kemampuan akademik Tak hanya kegiatan yang mendukung otak kanan siswa saja, Sinarmas World Academy juga turut mendukung perkembangan keterampilan akademik siswa yang berhubungan dengan intelligent quotient (IQ).

“Untuk mengoptimalkan kemampuan akademik, sekolah memfasilitasi berbagai kegiatan kompetisi berskala nasional dan internasional. Selain bisa mengasah keterampilan akademik, kegiatan ini juga bisa memotivasi siswa,”  ungkap SWA School Counselour Danny kepada Kompas.com, Rabu (3/10/2018).

Adapun beberapa kompetisi yang diikuti siswa SWA di antaranya Southeast Asian Mathematical Olympiads (SEAMO), Japan International Science and Mathematics Olympiads (JISMO), International Competitions and Assessments for School (ICAS), World Scholar’s Cup (WSC), Indonesian Robotics Olympiad (IRO), Spelling Bee, English Literacy Day, dan Sinarmas World Mind Matrix.

Sementara itu kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan sekolah untuk mengoptimalkan keterampilan belajar siswa adalah dengan melakukan pertukaran pelajar, studi banding, mengundang para pakar pendidikan dari dalam dan luar negeri untuk memberikan pelatihan-pelatihan (workshop) di berbagai bidang akademik seperti matematika, IPA, teknologi dan informasi.

“Beberapa waktu yang lalu kami juga baru mengadakan pelatihan atau workshop matematika dengan mengundang pembicara dari University of Waterloo (Kanada),” tambah Danny. Kemudian, hal lain yang tidak kalah penting adalah sekolah menempatkan para siswa berdasarkan potensi akademik di berbagai mata pelajaran seperti bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS dan bahasa Mandarin.

“Kami mempunyai dua kelas untuk penempatan siswa berdasarkan potensinya, ada kelas standard level untuk siswa yang membutuhkan bantuan pembelajaran secara lebih dan ada juga additional level untuk siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata,” terang Danny. Hal tersebut dilakukan agar siswa bisa mengalami proses belajar dan mengajar yang telah disesuaikan dengan potensi, gaya belajar, dan kebutuhan belajar siswa sehingga pembelajaran bisa lebih efektif dan efisien.

Sumber

]]>