SinarMasWorldAcademy – Sinar Mas /blog Fri, 02 Nov 2018 08:50:26 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.9.1 /blog/wp-content/uploads/2016/10/cropped-sm-250x250-32x32.png SinarMasWorldAcademy – Sinar Mas /blog 32 32 Pendidikan Anak Usia Dini, Apa yang Harus Dicermati oleh Orangtua? /blog/?p=2148 Sun, 04 Nov 2018 02:00:59 +0000 http://www.sinarmas.com/blog/?p=2148 Pendidikan anak usia dini sejatinya adalah sebuah investasi jangka panjang untuk anak meraih kesuksesan di masa mendatang. Berkaca pada hal itu, setiap orangtua tentu menginginkan pendidikan terbaik untuk buah hatinya.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, bagaimana cara orangtua memilih lembaga pendidikan anak usia dini atau pre-school yang tepat untuk putra-putrinya? Serta faktor apa saja yang harus dicermati dalam pemilihan tersebut?

Pada dasarnya, melansir artikel Kompas.com pada Jumat, (22/1/2016), pendidikan terbaik akan dapat diperoleh anak ketika metode dan sistem pembelajaran di kelas sesuai dengan gaya belajar mereka.

Oleh karena itu sebelum menentukan pilihan sekolah mana yang akan dimasuki, sebaiknya orangtua harus terlebih dahulu mengetahui kemampuan dan kebutuhan si buah hati. Hal ini untuk memastikan anak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan menyenangkan tanpa merasa tertekan.

Kemudian, setelah itu barulah orangtua bisa melihat faktor lainnya yang wajib dicermati saat menentukan pre-school untuk anak. Berikut pembahasannya.

1. Tenaga pendidik yang cakap

Baik atau tidaknya kualitas pre-school yang akan dipilih bisa dilihat lewat tenaga pendidiknya. Kerap disebutkan bahwa tenaga pendidik atau guru adalah ujung tombak yang menentukan anak akan belajar dan bermain dengan menyenangkan atau tidak.

Selain harus memiliki background pendidikan yang sesuai, seorang guru juga harus cakap dalam memberikan pengajaran yang baik agar mereka nyaman berada di kelas.

“Hal utama yang harus dilakukan guru adalah membuat anak didik nyaman terlebih dahulu berada di kelas. Jika hal tersebut sudah tercapai, maka mereka akan memiliki rasa trust kepada guru sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal,” ungkap Koordinator Guru Early Years Sinarmas World Academy, Len kepada Kompas.com, Jumat (6/10/2018).

Lebih lanjut, seorang guru juga harus pandai melihat perkembangan dan hal apa saja yang dibutuhkan anak. Terlebih bila anak memiliki masalah dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru yang baik akan mengkomunikasikan kepada orangtua tentang perkembangan maupun kendala-kendala yang mungkin saja dihadapi si buah hati.

2. Lingkungan sekolah

Hal selanjutnya yang harus dicermati dalam memilih pre-school adalah lingkungan sekolah (environment) itu sendiri. Perhatikan, apakah sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai atau tidak?

Selain itu cermati juga ruang belajar anak didik. Melansir artikel Kompas.com, Senin (21/5/2018), ruang belajar yang baik bagi siswa pre-school harus memiliki furnitur yang sesuai ukuran dengan tubuh anak-anak. Dengan begini mereka bisa mengambil barang yang dibutuhkannya sendiri tanpa bergantung kepada orang dewasa.

Komposisi jumlah murid dengan guru juga harus disesuaikan dengan ruang kelas. Jangan sampai kelas terasa penuh dan sesak. Co-Principal Early Years and Elementary School SWA Kelly mengungkapkan, idealnya jumlah siswa dalam satu kelas berjumlah 6-15 anak.

“Hal ini supaya anak didik dapat lebih nyaman berada di kelas dan guru bisa melihat perkembangan masing-masing anak dengan lebih fokus,” jelasnya kepada Kompas.com.

Siswa-siswa preschool Sinarmas World Academy.

3. Nilai dasar atau filosofi sekolah

Setiap sekolah mempunyai nilai dasar dan filosofinya masing-masing. Meskipun secara kasat mata komponen ini tidak banyak diperhatikan oleh orangtua, tetapi nyatanya hal ini sangat penting. Sebab, nilai dasar dan filosofi sekolah menentukan bagaimana budaya belajar mengajar di kelas berlangsung.

Hal terpenting yang harus Anda lakukan sebagai orangtua adalah kenali terlebih dahulu nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh sekolah. Kemudian, sesuaikan pula dengan kebutuhan anak Anda, apakah kepribadian dan gaya belajar si anak cocok atau tidak.

4. Penggunaan kurikulum

Kurikulum dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam sebuah pendidikan. Kurikulum yang tepat akan dapat memberikan pembelajaran yang sesuai sehingga proses belajar mengajar pun akan berjalan lancar.

Oleh karena itu, penting hukumnya menerapkan kurikulum yang tepat untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas. Hal ini seperti yang diterapkan oleh Sinarmas World Academy (SWA).

“Pada pendidikan anak usia dini, ada beberapa tahapan berbeda yang dimiliki anak sesuai usianya. Dalam hal ini berarti beda usia maka beda skills juga yang akan dipelajari,” ungkap Kelly.

Melihat fakta tersebut, SWA menggunakan dua kurikulum yang berbeda sesuai dengan tahapan usia anak, yakni Early Years Foundation Stage (EYFS) dan Cambridge Primary Curriculum Stage 1.

“Kurikulum EYFS digunakan untuk kelas Toddler (0-2 tahun), Nursery (2-3 tahun), Pre Kindergarten (3-4 tahun), dan Kindergarten 1 (4-5 tahun). Kami menilai kurikulum ini cocok untuk mereka karena menyeimbangkan kegiatan bermain dan belajar,” jelas Kelly.

Pada tahap ini peserta didik difokuskan pada empat area pembelajaran, seperti pendidikan literasi, matematika dasar, seni dan desain ekspresif, serta pengetahuan dasar komputer dan robotik.

Setelah anak bertambah usia pada rentang 5-6 tahun, lanjut Kelly, mereka akan masuk ke dalam kelas Kindergarten 2.

“Pada kelas ini kami menggunakan Cambridge Primary Curriculum Stage 1 yang berfokus pada persiapan peserta didik masuk ke jenjang berikutnya, yakni sekolah dasar,” ujarnya lagi.

Pembelajaran komputasi matematika mulai dikenalkan di kelas ini. Selain itu, pelajaran ilmu pengetahuan alam, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan kesenian juga mulai difokuskan.

Selain pentingnya keberadaan kurikulum, ternyata peran orangtua terhadap perkembangan anak usia dini di sekolah juga mempunyai posisi yang strategis.

“Orangtua harus berlaku supportive, cooperative, dan open minded dalam pendidikan anak usia dini. Selain itu, komunikasi yang apik juga harus terjalin antara orangtua dan guru, jadi terjalin hubungan yang terbuka,” ujar Kelly.

Dengan begitu, diharapakan siswa usia dini bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas sebagai bekal untuk mengecap pendidikan selanjutnya.

 

Sumber

]]>
Catat, Ini Pentingnya Keseimbangan Otak Kiri dan Otak Kanan /blog/?p=2105 Thu, 11 Oct 2018 08:34:12 +0000 http://www.sinarmas.com/blog/?p=2105 Kerap dikatakan bahwa anak yang pintar berhitung pasti otak kirinya lebih dominan. Sementara anak yang lihai dalam bidang kesenian memiliki otak kanan yang lebih aktif. Benarkah?

Jika berbicara mengenai fungsi otak, mungkin kita harus memutar balik waktu menuju tahun 60an, di mana seorang ahli neuropsikolog asal Amerika Serikat, Roger Sperry melakukan riset tentang otak manusia. Lewat penelitian yang memakan waktu lebih kurang sepuluh tahun itu, Roger menemukan bahwa ternyata otak manusia terdiri atas dua bagian.

Menurutnya, kedua belah otak ini saling memberi informasi. Belahan otak kanan, misalnya, bertugas mengendalikan otot-otot di bagian kiri tubuh. Sementara otak belahan kiri mengontrol otot di bagian sebaliknya. Menurut penelitian Roger pula, secara umum belahan otak kiri sangat dominan dalam fungsi bahasa verbal. Selain itu bagian ini juga mengerjakan fungsi logika dan komputasi matematika. Bisa dibilang bahwa otak kiri merupakan pengendali intelligent quotient (IQ). Fungsi tersebut ternyata tidak ditemui pada otak bagian kanan. Hal ini karena otak kanan lebih berfungsi dalam pengembangan emotional quotient (EQ).

Di samping itu, otak kanan juga berhubungan dengan kemampuan intuitif seni (seperti menyanyi, menari, melukis), kemampuan merasakan, pusat khayalan dan kreativitas, serta pengendalian ekspresi manusia. Setelah melihat hasil riset di atas mungkin Anda akan bertanya, “sebaiknya otak bagian mana yang harus diunggulkan?”.

Pada dasarnya, otak secara alami akan selalu menjaga keseimbangan dan bertugas membagi kontrol beberapa fungsi.  Pembagian fungsi ini juga dimaksudkan agar otak bekerja secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus Anda ketahui adalah bagaimana kedua bagian otak tersebut menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya.

Kreativitas, aktivitas, dan pelayanan 

Sekolah menjadi wadah yang tepat untuk mengembangan dan menyeimbangkan fungsi otak. Hal ini karena siswa dapat mengikuti beberapa kegiatan yang sesuai bakat dan minatnya. “Sekolah mempunyai peran untuk bisa mengarahkan mereka (siswa) memiliki keterampilan yang seimbang,” ujar Ahmad, salah satu tenaga pendidik Sinarmas World Academy kepada Kompas.com, Selasa (25/9/2018).

Oleh karena itu, lanjut Ahmad, ada baiknya sekolah juga memiliki program yang lebih spesifik untuk mengekspresikan potensi diri siswa. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Sinarmas World Academy (SWA) melalui program Creativity, Activity, and Service (CAS).

Sesuai namanya program tersebut memiliki tiga komponen kegiatan. Pertama ada creativity atau kreativitas. Pada komponen ini siswa diberikan keleluasaan untuk bisa mengembangkan otak kanan mereka melalui kegiatan-kegiatan kesenian.

Selain itu siswa juga bisa melakukan eksplorasi dengan memperluas ide mereka menjadi sebuah karya yang orisinal atau interpretatif. Salah satu contohnya mereka bisa bergabung ke dalam sebuah grup musik. Di sana selain siswa bisa belajar mengolah vokal dan meningkatkan kemampuan bermusik, mereka juga dituntut untuk berkarya dengan mengadakan acara musik di lingkungan sekolah.

Selanjutnya activity atau aktivitas. Pada komponen ini siswa akan melakukan aktivitas fisik yang berkontribusi terhadap gaya hidup sehat. Kemudian komponen terakhir service atau pelayanan. Pada komponen ini para siswa harus menunjukkan keterlibatan kolaboratif dengan masyarakat umum, misalnya lewat mengajarkan bahasa Inggris, membangun perpustakaan untuk masyarakat, atau berkolaborasi membuat karya seni melalui berbagai komunitas.

Menjadi komponen kelulusan di Sinarmas World Academy, program CAS hanya diperuntukkan bagi siswa middle school dan high school. Selain dijadikan sebagai program wajib, CAS juga digunakan sebagai salah satu komponen kelulusan siswa. Adapun beberapa outcome yang diharapkan dari program ini, beberapa di antaranya adalah siswa dapat mengidentifikasi kekuatan sendiri dan mengembangkan area untuk pertumbuhan pribadi, menunjukkan bahwa mereka bisa menaklukkan tantangan dan mengembangkan keterampilan baru, mencatat setiap proses yang telah mereka lalui, serta dapat menunjukkan komitmen dan ketekunan saat mengikuti kegiatan.

Di samping itu, mereka juga mendapatkan pengalaman akan manfaat bekerja secara kolaboratif, menunjukkan keterlibatan dengan isu-isu global, dan terakhir dapat mempertimbangkan pilihan dan tindakan yang akan mereka pilih. “Dari semua kegiatan itu, salah satu hal yang paling penting adalah siswa bisa menikmati proses yang mereka jalani. Jadi selain dapat menyalurkan energi dan hobi mereka ke arah positif, mereka juga bisa lebih mengekspresikan dirinya lebih baik,” ujar Ahmad.

Optimalkan kemampuan akademik Tak hanya kegiatan yang mendukung otak kanan siswa saja, Sinarmas World Academy juga turut mendukung perkembangan keterampilan akademik siswa yang berhubungan dengan intelligent quotient (IQ).

“Untuk mengoptimalkan kemampuan akademik, sekolah memfasilitasi berbagai kegiatan kompetisi berskala nasional dan internasional. Selain bisa mengasah keterampilan akademik, kegiatan ini juga bisa memotivasi siswa,”  ungkap SWA School Counselour Danny kepada Kompas.com, Rabu (3/10/2018).

Adapun beberapa kompetisi yang diikuti siswa SWA di antaranya Southeast Asian Mathematical Olympiads (SEAMO), Japan International Science and Mathematics Olympiads (JISMO), International Competitions and Assessments for School (ICAS), World Scholar’s Cup (WSC), Indonesian Robotics Olympiad (IRO), Spelling Bee, English Literacy Day, dan Sinarmas World Mind Matrix.

Sementara itu kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan sekolah untuk mengoptimalkan keterampilan belajar siswa adalah dengan melakukan pertukaran pelajar, studi banding, mengundang para pakar pendidikan dari dalam dan luar negeri untuk memberikan pelatihan-pelatihan (workshop) di berbagai bidang akademik seperti matematika, IPA, teknologi dan informasi.

“Beberapa waktu yang lalu kami juga baru mengadakan pelatihan atau workshop matematika dengan mengundang pembicara dari University of Waterloo (Kanada),” tambah Danny. Kemudian, hal lain yang tidak kalah penting adalah sekolah menempatkan para siswa berdasarkan potensi akademik di berbagai mata pelajaran seperti bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS dan bahasa Mandarin.

“Kami mempunyai dua kelas untuk penempatan siswa berdasarkan potensinya, ada kelas standard level untuk siswa yang membutuhkan bantuan pembelajaran secara lebih dan ada juga additional level untuk siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata,” terang Danny. Hal tersebut dilakukan agar siswa bisa mengalami proses belajar dan mengajar yang telah disesuaikan dengan potensi, gaya belajar, dan kebutuhan belajar siswa sehingga pembelajaran bisa lebih efektif dan efisien.

Sumber

]]>