Sinarmas World Academy (SWA) – Sinar Mas /blog Fri, 13 Dec 2024 02:44:19 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.9.1 /blog/wp-content/uploads/2016/10/cropped-sm-250x250-32x32.png Sinarmas World Academy (SWA) – Sinar Mas /blog 32 32 Siswa Sinarmas World Academy Raih Juara 1 World Robot Olympiad Final 2024 /blog/?p=4214 Tue, 03 Dec 2024 02:30:52 +0000 /blog/?p=4214 Tim Ocean Voyager dari Sinarmas World Academy (SWA) berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih Juara 1 kategori Future Innovator, Junior dalam ajang bergengsi World Robot Olympiad (WRO) Final Internasional 2024 di Izmir, Turki.

Bersaing melawan lebih dari 560 tim terbaik dari lebih dari 80 negara, tim SWA tidak hanya mewakili Indonesia tetapi juga menunjukkan potensi inovator muda di panggung global.

Dengan meraih skor mengesankan 165,75 poin, tim yang terdiri dari Zhenxuan (Kelas 9), Ruoyi (Kelas 8), dan Samarth (Kelas 9) berhasil memukau para juri dengan proyek inovatif mereka, The Ocean Voyager-sebuah kendaraan yang dioperasikan jarak jauh (ROV) yang dirancang untuk mendukung restorasi terumbu karang. Dengan meminimalkan kehadiran manusia di bawah air, kendaraan inovatif ini meningkatkan efisiensi dan keselamatan upaya konservasi laut.

Dilengkapi dengan teknologi kamera canggih, The Ocean Voyager dapat mendokumentasikan lingkungan bawah laut, memantau pertumbuhan terumbu karang, dan mendeteksi anomali secara real-time. Proyek ini bertujuan untuk menawarkan solusi berkelanjutan guna mempercepat pemulihan ekosistem laut, mengatasi tantangan global dalam konservasi lingkungan.

Siswa Sinarmas World Academy Raih Juara 1 World Robot Olympiad Final 2024.
Tiga Siswa Sinarmas World Academy (SWA) dalam World Robot Olympiad Final 2024. (Foto: Dok. SWA)

Zhenxuan, Ruoyi, dan Samarth mengatakan memenangkan kompetisi ini adalah perjalanan yang luar biasa. Dimulai sebagai proyek sederhana, The Ocean Voyager, menjadi sesuatu yang luar biasa. Menurut mereka, para guru di SWA terus menantang mereka untuk melihat lebih jauh dan memahami bagaimana inovasi bisa mendorong perubahan positif dalam lingkungan.

“Dukungan mereka (para guru) yang tak tergoyahkan dan lingkungan belajar dinamis di SWA mendorong kreativitas dan tekad kami. Mereka percaya pada potensi kami untuk mengubah ide menjadi solusi nyata. Kami bangga telah menciptakan sesuatu yang tidak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga memiliki kekuatan untuk memberikan dampak yang berarti bagi planet ini,” ujar mereka, Senin (2/12/2024).

Tim Sinarmas World Academy meraih juara 1 dalam Future Innovator Junior di World Robot Olympiad.
Tim Sinarmas World Academy meraih juara 1 dalam Future Innovator Junior di World Robot Olympiad. (Foto: Dok. ISWA)

Sementara itu, General Manager SWA Deddy Djaja Ria mengungkapkan kebanggaannya. Menurutnya kemenangan ini bukan hanya pencapaian untuk SWA, tetapi juga untuk Indonesia.

“Kami sangat bangga dengan kemenangan siswa/i kami di WRO Final Internasional 2024. Kemenangan ini bukan hanya pencapaian untuk SWA, tetapi juga untuk Indonesia, karena kita telah menunjukkan kemampuan inovator muda kita di platform internasional. Proyek The Ocean Voyager menjadi bukti komitmen siswa dalam menciptakan inovasi yang berdampak bagi lingkungan. Projek ini juga menginspirasi generasi berikutnya untuk aktif berkontribusi dan berperan dalam memecahkan masalah global,” ungkap Deddy.

Dengan pencapaian luar biasa ini, SWA memperkuat komitmennya untuk mengembangkan potensi siswa secara holistik. Para pendidik yang berkelas dunia menginspirasi kreativitas dan inovasi, membimbing siswa untuk mengatasi tantangan dunia nyata.

Lebih lanjut, SWA selalu memandu siswa untuk mengubah ide menjadi solusi berdampak, menawarkan kesempatan luar biasa untuk membuat perbedaan. Dengan mendorong kolaborasi dan kesadaran global, SWA membentuk pemimpin masa depan untuk mendorong perubahan berkelanjutan dan memberikan dampak yang nyata.

]]>
Siswa Sinarmas World Academy (SWA) Pantang Menyerah Bantu Sesama dan Lingkungan /blog/?p=3557 Tue, 22 Mar 2022 02:43:23 +0000 /blog/?p=3557 Banyak yang beranggapan generasi muda tidak memiliki kepedulian akan lingkungan sekitar. Mereka terlalu sibuk dengan gawai dan memiliki dunia sendiri. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Para siswa Sinarmas World Academy (SWA) telah membuktikan sebaliknya anggapan tersebut. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, para siswa SWA pantang menyerah mengadakan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat.

Mulai dari membuat face shield untuk didonasikan ke sejumlah klinik, memberikan bantuan berupa susu ke anak-anak pemulung, membantu pengadaan pembangkit listrik untuk korban banjir di NTT, dan memberi bingkisan kepada anak-anak yatim piatu.

Berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Service as Action (SA) dan Creativity, Activity, and Service (CAS). Kedua program ini merupakan mata pelajaran wajib di sekolah yang menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB).

“Mata pelajaran SA dan CAS mendorong siswa untuk memiliki social responsibility dan belajar act of service dengan mengimplementasikan mata pelajaran yang sudah didapat selama lima tahun pertama,” ujar SWA MSHS Co-Principal Alex.

Sebagai informasi, program SA harus diikuti oleh para siswa yang duduk di kelas 6-10, sedangkan program CAS diperuntukkan bagi siswa kelas 11 dan 12.

Kegiatan yang dilakukan untuk program CAS dapat berupa kelanjutan dari proyek SA yang dilakukan siswa pada jenjang sebelumnya. Dengan demikian, siswa dapat memaksimalkan implementasi proyek yang telah dibuat sehingga hasil atau dampak positifnya pada masyarakat lebih terlihat.

Alex menambahkan, program SA dan CAS yang diterapkan SWA unik. Sebab, SWA memberi kekuasaan penuh kepada siswa dalam menjalankan proyek pada dua program tersebut.

“Spesialnya SA dan CAS di SWA adalah memberikan ownership sepenuhnya kepada siswa untuk setiap project yang akan dibuat. Guru hanya sebagai supervisor. Metode ini memberikan empowerment bagi siswa,” kata Alex.

SWA CAS Coordinator and (Interim) SA Coordinator Elma pun menjelaskan mengenai proses yang ditempuh siswa dalam kedua program tersebut. Setelah siswa memiliki ide atau gagasan menarik, mereka akan melakukan investigasi dan riset lebih mendalam.

“Selanjutnya, mereka merencanakan kegiatan yang ingin dilakukan dalam bentuk proposal. Proposal ini kemudian dibawa ke guru penanggung jawab program lalu dievaluasi hingga ke tingkat upper management SWA. Dengan proses ini siswa menjadi terlatih untuk mendapatkan feedback dan membuat perencanaan sebaik-baiknya,” tutur Elma.

Jika disetujui, lanjutnya, siswa dapat langsung melaksanakan kegiatan tersebut. Meski ada yang dikerjakan secara individu, kebanyakan kegiatan SA dan CAS dilakukan siswa secara berkelompok, baik dalam kelompok kecil maupun yang lebih besar dengan cara berkolaborasi.

Setelah melakukan kegiatan, mereka akan merefleksikan penerapan di lapangan dan hasilnya dalam berbagai bentuk laporan, seperti video, artikel, pertunjukan, dan karya musik.

Elma menambahkan, meski menjadi syarat kelulusan, hal terpenting dalam mengikuti program SA dan CAS adalah siswa dapat memahami langsung persoalan yang dihadapi masyarakat dan mengimplementasikan materi pelajaran yang mereka sukai serta kuasai untuk membantu mengatasinya.

Dalam proyek-proyek yang dilakukan, para siswa tetap mempunyai keinginan pencapaian yang ambisius, walau di tengah pandemi Covid-19 yang memberikan banyak hambatan. Menurutnya, hal ini mengembangkan sifat kepemimpinan siswa.

Salah satu kegiatan yang dibuat para siswa SWA adalah acara presentasi dan workshop bertajuk “Peran Kepemimpinan Kaum Muda di Masa Pandemi”. Acara ini menghadirkan pembicara tamu dari WHO Jenewa secara virtual.

“Dengan demikian, para siswa dapat belajar langsung dari pengalaman yang dialami sendiri dan menjadi changemakers yang peka. Mereka juga menjadi lebih bersemangat dan totalitas dalam mengerjakan tugas tersebut. Mereka pun mendapatkan hasil yang lebih memuaskan,” ujar Elma.

Selain itu, SWA Admissions Vincent mengatakan bahwa dengan pengalaman mengerjakan sebuah proyek dari program SA dan CAS, para siswa secara otomatis telah memiliki portofolio yang baik.

“Hal tersebut dapat menjadi nilai lebih untuk pertimbangan masuk ke universitas. Terlebih, kebanyakan siswa SWA berkeinginan melanjutkan ke universitas di luar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Vincent juga menjelaskan bahwa setiap tahun para siswa yang baru naik ke kelas 6 akan direkrut oleh kakak kelas untuk bergabung ke program SA yang sedang dikerjakan. Para siswa yang sebelumnya telah mendapatkan program SA pun melakukan presentasi untuk menarik minat adik kelas.

“Para siswa diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu proyek yang diminati. Namun, mereka sendiri yang harus dapat mengatur waktu untuk melakukan kegiatan yang diikuti,” kata Vincent.

Sejak berdirinya sekolah internasional SWA pada Juli 2008, berbagai kegiatan SA dan CAS telah dilakukan oleh para siswa. Tak hanya memberi sumbangan atau donasi, para siswa juga melakukan beragam penelitian dan menghasilkan karya yang dapat membantu masyarakat.

Misalnya, dalam bidang keanekaragaman hayati dan pembuatan daging di laboratorium oleh grup Bio2M yang dipublikasikan di media.

Salah satunya siswa SWA yang melakukan penelitian untuk membantu masyarakat adalah Gisela dengan proyek yang dikerjakannya bernama SoLALA-H. Siswa kelas 10 ini melakukan penelitian mengenai cara pengeringan tanaman eceng gondok.

Gisela dalam proses pembuatan mesin pengering eceng gondok.
Gisela saat membuat mesin pengering eceng gondok

Ia bersama kelompoknya melakukan penelitian hingga membuat sebuah mesin pengering eceng gondok. Kegiatan tersebut menyasar dua hasil, yakni pengurangan populasi eceng gondok untuk memperbaiki ekosistem air tawar serta membantu kegiatan produksi pengrajin eceng gondok.

“Saya menerapkan pelajaran sains untuk membuat sebuah alat pengering eceng gondok. Jika eceng gondok tersebut cepat kering, para pengrajin pun dapat mengerjakan pekerjaannya menjadi lebih cepat,” ujar Gisela.

Sementara itu, siswa SWA kelas 9, Jasmine, menceritakan proyek SA “Newtrition4All” yang sedang digarap bersama teman-temannya. Setiap Sabtu pagi, ia mengajar siswa kelas 5 SDN Sawangan 3 mengenai nutrisi dan pentingnya gaya hidup berkelanjutan.

“Kami mengajari mereka dengan cara yang dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial, dan kolaboratif, seperti permainan cerdas cermat, tebak-tebakan, dan bernyanyi bersama,” ujarnya.

Program CAS juga berkolaborasi dengan Student Council (StuCo) untuk melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, kegiatan mengajar murid sekolah lain yang berada di sekitar gedung SWA.

Satu kali seminggu, mereka terjun langsung memberikan pelajaran berbahasa Inggris kepada murid yang lebih muda. Namun, kegiatan tersebut terpaksa dihentikan saat pandemi Covid-19 melanda.

Para siswa pun akhirnya memiliki gagasan untuk memberikan pelajaran untuk para murid di sekolah lain secara online. Tak tanggung-tanggung, mereka memilih SDN 35 Dompu di NTB sebagai sekolah yang dituju.

Salah satu kegiatan mengajar siswa SDN 35 Dompu NTB.
Siswa SWA mengajar murid-murid di SDN 35 Dompu, NTB secara daring

“Teknologi membuat hal tersebut dapat terjadi. Kami dapat mengajar para murid di SDN 35 Dompu, NTB, dengan memanfaatkan internet. Setiap Sabtu pagi, kami melatih para murid secara online,” ujar SWA Student Council President 2020-2021 Eunike.

Eunike pun menjelaskan mengenai berbagai kegiatan yang dilakukannya untuk memberikan pendidikan tambahan untuk anak-anak dengan akses terbatas. Ia bersama teman-temannya membagikan ilmu dan keterampilan seperti, menggambar komik, badminton, bernyanyi dalam bahasa Finlandia, membuat prakarya, dan bermain alat musik, menari tradisional sampai K-Pop yang menghasilkan pertunjukkan bersama secara virtual antara para siswa SWA dengan murid SDN 35 Dompu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh SWA Student Council Vice President 2021-2022 Evelyn. Ia bercerita bahwa antusiasme para murid SDN 35 Dompu membuat pada siswa SWA menjadi lebih semangat menjalani kegiatan tersebut.

“Setiap Jumat, kami mengadakan rapat bersama teman-teman membahas materi apa yang akan diajarkan keesokan harinya. Rasanya menyenangkan dapat membagikan hal yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Evelyn.

]]>
Siswa Sinarmas World Academy Raih Emas di Kompetisi Robot Dunia /blog/?p=3100 Fri, 18 Dec 2020 07:53:31 +0000 /blog/?p=3100 Tim robotik RoboKnights dari sekolah Sinarmas World Academy (SWA) meraih juara pertama dalam ajang bergengsi dunia, World Robot Olympiad (WRO) 2020-X Canada.

Tema yang diangkat dalam WRO tahun ini adalah Perubahan Iklim (Climate Change). RoboKnights, yang beranggotakan Alisa dari kelas 10, Ayden dan Kevin dari kelas 8, memilih topik “manufaktur lokal untuk pengurangan transportasi”. Melalui kegiatan robotik, suatu kegiatan produksi dapat dilakukan jarak jauh, dan diharapkan dapat mengurangi secara signifikan transportasi manusia. Hal ini akan berdampak pada pengurangan emisi gas rumah kaca, dan memperbaiki iklim dunia.

WRO sendiri merupakan kompetisi internasional robotik terbesar dan paling bergengsi untuk pelajar usia 10 hingga 21 tahun. Kompetisi ini diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2004, dengan tema sosial yang berbeda-beda. Peserta WRO ditantang untuk mengembangkan kreativitas, desain, dan kemampuan problem-solving mereka melalui kompetisi dan aktivitas robot yang menantang dan mendidik. WRO 2020 terpaksa dilakukan secara daring karena pembatasan sosial COVID-19.

Alisa mengaku sangat bangga dan senang dengan pencapaian kelompoknya, “Saya sangat, sangat senang! Kami mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga kami selama enam bulan terakhir dalam proyek ini, dan kami berhasil membawa kemenangan untuk Indonesia,” ucapnya bangga.

RoboKnights merupakan tim Indonesia pertama yang berhasil memenangkan WRO Open Category dalam 2 dekade terakhir ini. Alisa mengatakan, timnya mengaku untuk meraih juara di ajang ini sangat sulit hingga akhirnya juara berhasil diraih maka mereka pun mengaku sangat bangga akan pencapaian ini.

Tantangan yang dihadapi para murid bertambah dengan adanya pandemi COVID-19 yang membatasi kegiatan tatap muka.

“Kami tidak bisa beraktivitas sebebas sebelumnya, tapi kami belajar untuk beradaptasi dengan pertemuan rutin secara daring dan membagi tugas dan peran untuk didelegasikan,” cerita Alisa.

Kelompok RoboKnights mempresentasikan robot ZOID sebagai solusi baru mereka yang disebut sebagai tele-manufacturing. Robot ini mampu mereplikasi gerakan sendi manusia dari bahu, turun ke jari, dan dapat dikontrol dari jarak dekat dan jarak jauh.

Dengan kecanggihan robot ini, kegiatan produksi dapat dilakukan dari lokasi yang berbeda, sehingga mengurangi biaya transportasi manusia.

“Ada dua mode droid. Pertama adalah ‘rekam’ untuk merekam gerakan tangan dari pengguna secara langsung, dan kedua adalah mode ‘otomatis’ yang terus melakukan gerakan tangan yang telah direkam sebelumnya. Kemampuan ini sangat penting di bidang manufaktur karena sebagian besar kegiatan bersifat berulang.” jelas Ayden.

“Partisipasi dan pencapaian mereka telah mendisrupsi pendidikan robotik di Indonesia. Kemenangan ini menjadi bukti potensi Indonesia di bidang STEM dan memperlihatkan evolusi pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Kami bangga menjadi salah satu sekolah pertama yang berinvestasi di STEM dan menjadi institusi pendidikan yang terus mengembangkan keterampilan anak muda” jelas Haoken, Kepala Departemen Sains SWA.

Alisa mengakui bahwa untuk dapat menyelesaikan suatu proyek itu penuh tantangan, terutama di saat pandemi ini. Tapi Alisa berpendapat bahwa ketekunan, dan kerja keras dibutuhkan untuk dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

Alisa mendorong inovator muda lain di luar sana untuk terus mencoba membuat perubahan positif melalui STEM.

“Jangan takut untuk mencoba hal baru. Membuat solusi baru yang inovatif, yang belum pernah terdengar sebelumnya selalu terkesan mustahil- sampai akhirnya dilakukan. Sulit untuk mulai mengambil inisiatif, tetapi lebih sulit lagi untuk terus maju, dan untuk tidak menyerah,” pungkasnya.

Selamat ya!

]]>