Kolaborasi Dalam Pandemi – Sinar Mas /blog Mon, 19 Dec 2022 09:18:40 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.9.1 /blog/wp-content/uploads/2016/10/cropped-sm-250x250-32x32.png Kolaborasi Dalam Pandemi – Sinar Mas /blog 32 32 Siswa Sinarmas World Academy (SWA) Pantang Menyerah Bantu Sesama dan Lingkungan /blog/?p=3557 Tue, 22 Mar 2022 02:43:23 +0000 /blog/?p=3557 Banyak yang beranggapan generasi muda tidak memiliki kepedulian akan lingkungan sekitar. Mereka terlalu sibuk dengan gawai dan memiliki dunia sendiri. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Para siswa Sinarmas World Academy (SWA) telah membuktikan sebaliknya anggapan tersebut. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, para siswa SWA pantang menyerah mengadakan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat.

Mulai dari membuat face shield untuk didonasikan ke sejumlah klinik, memberikan bantuan berupa susu ke anak-anak pemulung, membantu pengadaan pembangkit listrik untuk korban banjir di NTT, dan memberi bingkisan kepada anak-anak yatim piatu.

Berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Service as Action (SA) dan Creativity, Activity, and Service (CAS). Kedua program ini merupakan mata pelajaran wajib di sekolah yang menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB).

“Mata pelajaran SA dan CAS mendorong siswa untuk memiliki social responsibility dan belajar act of service dengan mengimplementasikan mata pelajaran yang sudah didapat selama lima tahun pertama,” ujar SWA MSHS Co-Principal Alex.

Sebagai informasi, program SA harus diikuti oleh para siswa yang duduk di kelas 6-10, sedangkan program CAS diperuntukkan bagi siswa kelas 11 dan 12.

Kegiatan yang dilakukan untuk program CAS dapat berupa kelanjutan dari proyek SA yang dilakukan siswa pada jenjang sebelumnya. Dengan demikian, siswa dapat memaksimalkan implementasi proyek yang telah dibuat sehingga hasil atau dampak positifnya pada masyarakat lebih terlihat.

Alex menambahkan, program SA dan CAS yang diterapkan SWA unik. Sebab, SWA memberi kekuasaan penuh kepada siswa dalam menjalankan proyek pada dua program tersebut.

“Spesialnya SA dan CAS di SWA adalah memberikan ownership sepenuhnya kepada siswa untuk setiap project yang akan dibuat. Guru hanya sebagai supervisor. Metode ini memberikan empowerment bagi siswa,” kata Alex.

SWA CAS Coordinator and (Interim) SA Coordinator Elma pun menjelaskan mengenai proses yang ditempuh siswa dalam kedua program tersebut. Setelah siswa memiliki ide atau gagasan menarik, mereka akan melakukan investigasi dan riset lebih mendalam.

“Selanjutnya, mereka merencanakan kegiatan yang ingin dilakukan dalam bentuk proposal. Proposal ini kemudian dibawa ke guru penanggung jawab program lalu dievaluasi hingga ke tingkat upper management SWA. Dengan proses ini siswa menjadi terlatih untuk mendapatkan feedback dan membuat perencanaan sebaik-baiknya,” tutur Elma.

Jika disetujui, lanjutnya, siswa dapat langsung melaksanakan kegiatan tersebut. Meski ada yang dikerjakan secara individu, kebanyakan kegiatan SA dan CAS dilakukan siswa secara berkelompok, baik dalam kelompok kecil maupun yang lebih besar dengan cara berkolaborasi.

Setelah melakukan kegiatan, mereka akan merefleksikan penerapan di lapangan dan hasilnya dalam berbagai bentuk laporan, seperti video, artikel, pertunjukan, dan karya musik.

Elma menambahkan, meski menjadi syarat kelulusan, hal terpenting dalam mengikuti program SA dan CAS adalah siswa dapat memahami langsung persoalan yang dihadapi masyarakat dan mengimplementasikan materi pelajaran yang mereka sukai serta kuasai untuk membantu mengatasinya.

Dalam proyek-proyek yang dilakukan, para siswa tetap mempunyai keinginan pencapaian yang ambisius, walau di tengah pandemi Covid-19 yang memberikan banyak hambatan. Menurutnya, hal ini mengembangkan sifat kepemimpinan siswa.

Salah satu kegiatan yang dibuat para siswa SWA adalah acara presentasi dan workshop bertajuk “Peran Kepemimpinan Kaum Muda di Masa Pandemi”. Acara ini menghadirkan pembicara tamu dari WHO Jenewa secara virtual.

“Dengan demikian, para siswa dapat belajar langsung dari pengalaman yang dialami sendiri dan menjadi changemakers yang peka. Mereka juga menjadi lebih bersemangat dan totalitas dalam mengerjakan tugas tersebut. Mereka pun mendapatkan hasil yang lebih memuaskan,” ujar Elma.

Selain itu, SWA Admissions Vincent mengatakan bahwa dengan pengalaman mengerjakan sebuah proyek dari program SA dan CAS, para siswa secara otomatis telah memiliki portofolio yang baik.

“Hal tersebut dapat menjadi nilai lebih untuk pertimbangan masuk ke universitas. Terlebih, kebanyakan siswa SWA berkeinginan melanjutkan ke universitas di luar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Vincent juga menjelaskan bahwa setiap tahun para siswa yang baru naik ke kelas 6 akan direkrut oleh kakak kelas untuk bergabung ke program SA yang sedang dikerjakan. Para siswa yang sebelumnya telah mendapatkan program SA pun melakukan presentasi untuk menarik minat adik kelas.

“Para siswa diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu proyek yang diminati. Namun, mereka sendiri yang harus dapat mengatur waktu untuk melakukan kegiatan yang diikuti,” kata Vincent.

Sejak berdirinya sekolah internasional SWA pada Juli 2008, berbagai kegiatan SA dan CAS telah dilakukan oleh para siswa. Tak hanya memberi sumbangan atau donasi, para siswa juga melakukan beragam penelitian dan menghasilkan karya yang dapat membantu masyarakat.

Misalnya, dalam bidang keanekaragaman hayati dan pembuatan daging di laboratorium oleh grup Bio2M yang dipublikasikan di media.

Salah satunya siswa SWA yang melakukan penelitian untuk membantu masyarakat adalah Gisela dengan proyek yang dikerjakannya bernama SoLALA-H. Siswa kelas 10 ini melakukan penelitian mengenai cara pengeringan tanaman eceng gondok.

Gisela dalam proses pembuatan mesin pengering eceng gondok.
Gisela saat membuat mesin pengering eceng gondok

Ia bersama kelompoknya melakukan penelitian hingga membuat sebuah mesin pengering eceng gondok. Kegiatan tersebut menyasar dua hasil, yakni pengurangan populasi eceng gondok untuk memperbaiki ekosistem air tawar serta membantu kegiatan produksi pengrajin eceng gondok.

“Saya menerapkan pelajaran sains untuk membuat sebuah alat pengering eceng gondok. Jika eceng gondok tersebut cepat kering, para pengrajin pun dapat mengerjakan pekerjaannya menjadi lebih cepat,” ujar Gisela.

Sementara itu, siswa SWA kelas 9, Jasmine, menceritakan proyek SA “Newtrition4All” yang sedang digarap bersama teman-temannya. Setiap Sabtu pagi, ia mengajar siswa kelas 5 SDN Sawangan 3 mengenai nutrisi dan pentingnya gaya hidup berkelanjutan.

“Kami mengajari mereka dengan cara yang dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial, dan kolaboratif, seperti permainan cerdas cermat, tebak-tebakan, dan bernyanyi bersama,” ujarnya.

Program CAS juga berkolaborasi dengan Student Council (StuCo) untuk melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, kegiatan mengajar murid sekolah lain yang berada di sekitar gedung SWA.

Satu kali seminggu, mereka terjun langsung memberikan pelajaran berbahasa Inggris kepada murid yang lebih muda. Namun, kegiatan tersebut terpaksa dihentikan saat pandemi Covid-19 melanda.

Para siswa pun akhirnya memiliki gagasan untuk memberikan pelajaran untuk para murid di sekolah lain secara online. Tak tanggung-tanggung, mereka memilih SDN 35 Dompu di NTB sebagai sekolah yang dituju.

Salah satu kegiatan mengajar siswa SDN 35 Dompu NTB.
Siswa SWA mengajar murid-murid di SDN 35 Dompu, NTB secara daring

“Teknologi membuat hal tersebut dapat terjadi. Kami dapat mengajar para murid di SDN 35 Dompu, NTB, dengan memanfaatkan internet. Setiap Sabtu pagi, kami melatih para murid secara online,” ujar SWA Student Council President 2020-2021 Eunike.

Eunike pun menjelaskan mengenai berbagai kegiatan yang dilakukannya untuk memberikan pendidikan tambahan untuk anak-anak dengan akses terbatas. Ia bersama teman-temannya membagikan ilmu dan keterampilan seperti, menggambar komik, badminton, bernyanyi dalam bahasa Finlandia, membuat prakarya, dan bermain alat musik, menari tradisional sampai K-Pop yang menghasilkan pertunjukkan bersama secara virtual antara para siswa SWA dengan murid SDN 35 Dompu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh SWA Student Council Vice President 2021-2022 Evelyn. Ia bercerita bahwa antusiasme para murid SDN 35 Dompu membuat pada siswa SWA menjadi lebih semangat menjalani kegiatan tersebut.

“Setiap Jumat, kami mengadakan rapat bersama teman-teman membahas materi apa yang akan diajarkan keesokan harinya. Rasanya menyenangkan dapat membagikan hal yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Evelyn.

]]>
Sinar Mas Ajak Berbagai Pihak untuk Berkolaborasi Atasi Pandemi di Indonesia /blog/?p=3244 Thu, 22 Jul 2021 06:55:21 +0000 /blog/?p=3244 Hampir dua tahun pandemi COVID-19 menjadi masalah genting yang masih harus dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, pandemi juga melumpuhkan perekonomian nasional. Sehingga penanganan yang serius harus dilakukan. Tidak hanya dari pemerintah, namun juga perlu kolaborasi dari banyak pihak. Tujuannya hanya satu: agar pandemi bisa diatasi.

Seperti yang kita ketahui bersama, gelombang kedua pandemi COVID-19 terjadi di Tanah Air. Lonjakan kasus dan ancaman mutasi virus membuat pemerintah Indonesia terus menggencarkan berbagai strategi. Salah satunya adalah percepatan program vaksinasi nasional sebagai upaya melindungi masyarakat.

Meski demikian, dalam menangani pandemi, kita tidak boleh hanya mengandalkan proteksi dari vaksinasi saja, tetapi juga tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah diberlakukan.

Vaksin Covid-19 memang terbukti efektif mencegah virus, mengurangi keparahan penyakit dan tingkat kematian akibat Covid-19, serta meningkatkan kekebalan komunal. Namun, orang-orang yang sudah divaksin dapat tetap terkena Covid-19 dan menularkan ke orang lain.

Oleh karena itu, disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan 5M menjadi proteksi yang wajib untuk kita terapkan bersama, yaitu menggunakan masker dua rangkap, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Salah satu bentuk protokol kesehatan ketat di lingkungan kerja, yaitu menjaga jarak.

Selain dukungan masyarakat berupa kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan, pihak swasta juga harus bergerak cepat membantu pemerintah dalam penanggulangan pandemi, baik dari sisi internal maupun eksternal.

Sejak awal pandemi merebak di Indonesia, Sinar Mas langsung bergerak cepat terjun ke masyarakat. Berbagai program dan bantuan telah disalurkan oleh Sinar Mas melalui pilar-pilar usahanya.

Mulai dari mengajak masyarakat meningkatkan produksi jahe merah dan madu oleh Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas, membagikan masker dan melaksanakan rapid test gratis dari SehatQ, hingga menyalurkan bantuan sembako serta vitamin.

Selain itu, Sinar Mas juga turut mengembangkan lini produksi masker MediShield by Paseo untuk memasok kebutuhan masker tenaga kesehatan di awal masa pandemi. MediShield by Paseo merupakan jenis masker bedah three ply (tiga lapis) yang sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Baru-baru ini, Sinar Mas melalui organisasi nirlaba Eka Tjipta Foundation (ETF) bekerja sama dengan alumni Kolese Kanisius menyelenggarakan vaksinasi massal bertajuk Vaksinasi Kanisius dari 5-18 Juli 2021 lalu. Rencananya, Vaksinasi Kanisius akan kembali digelar pada pekan pertama Agustus 2021.

Wakil Ketua Umum ETF Hong Tjhin mengatakan, Vaksinasi Kanisius merupakan salah satu upaya untuk memperluas jangkauan vaksinasi kepada masyarakat di luar lingkup internal Sinar Mas.

“Kepedulian alumni Kanisius yang berkesinambungan sudah semestinya mendapat dukungan. Selain untuk dewasa, vaksinasi ini juga diperuntukkan bagi pelajar di atas usia 12 tahun. Sebab, pembelajaran tatap muka terbatas yang dicanangkan pemerintah mensyaratkan aspek keselamatan pelajar (dan pendidik),” kata Hong Tjhin.

Senada dengan Hong Tjhin, Managing Director Sinar Mas Saleh Husin menyambut baik Vaksinasi Kanisius.

“Niat penyelenggaraan vaksinasi ini demi mendukung terbentuknya kekebalan komunitas di Indonesia. Meski pihak yang bekerja sama pada program ini berasal dari bidang yang berbeda, kami memiliki tujuan yang sama,” kata Saleh.

Saleh dan Hong Tjhin pun mengharapkan vaksinasi tersebut dapat membantu menghentikan penyebaran Covid-19 pada anak-anak. Hal ini mengingat kasus terkonfirmasi pada rentang usia 12-17 tahun tergolong tinggi. Dari 2 juta kasus terkonfirmasi di Indonesia per akhir Juni 2021, lebih dari 108.000 kasus di antaranya terjadi pada rentang usia 12-17 tahun.

Pelaksanaan Vaksinasi Kanisius juga turut dibantu beberapa perusahaan, seperti PT Combiphar, PT Petrosea, dan PT Prosehat. Adapun vaksin yang digunakan untuk seluruh rangkaian kegiatan adalah Sinovac.

Sebelumnya, Sinar Mas juga turut bekerja sama dengan pemerintah menghadirkan program Vaksinasi Gotong Royong untuk karyawan.

Pada pelaksanaan perdana Vaksinasi Gotong Royong, pilar usaha Sinar Mas, yakni Sinar Mas Agribusiness and Food telah memvaksin hampir 600 karyawan. Secara bertahap, perusahaan juga akan menyuntikkan vaksin kepada lebih dari 3.000 karyawan.

Selain Sinar Mas Agribusiness and Food, anak perusahaan Sinar Mas lain yang turut bergabung dalam program Vaksinasi Gotong Royong adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk yang berada di bawah naungan APP Sinar Mas.

Secara bergelombang, perusahaan akan memvaksin 4.000 karyawan. Sebagai informasi, vaksinasi yang diadakan di Bekasi dan Tangerang Selatan itu difasilitasi oleh Tzu Chi Hospital dengan melibatkan Klinik Pratama Simas Sehat, Eka Hospital, serta SehatQ.

Bantuan Oksigen
Selain ikut andil dalam berbagai program vaksinasi, Sinar Mas juga turut memberikan donasi peralatan medis berupa ribuan ton liquid oxygen dan puluhan ribu oxygen concentrators (OC).

Pengadaan stok oksigen sebanyak 1.200 ton per bulan dilakukan oleh pilar usaha Sinar Mas, yaitu Asia Pulp & Paper (APP) melalui unit bisnisnya PT OKI Pulp and Paper Mills, PT Indah Kiat Pulp and Paper (Perawang Mill), serta PT Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry. Dengan kapasitas tersebut, setidaknya mampu mengisi sekitar 1 juta tabung oksigen medis dengan volume 1 meter kubik tiap bulan.

Dukungan oksigen medis dari APP Sinar Mas guna memenuhi kebutuhan oksigen para pasien Covid-19 di sejumlah daerah.

Sedangkan untuk bantuan oxygen concentrator (OC), Sinar Mas bekerja sama dengan Yayasan Temasek, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, serta 14 perusahaan lain asal Indonesia dan Singapura, mendonasikan 11 ribu OC.

Pada pengiriman tahap pertama, sebanyak 1.500 unit OC telah diberangkatkan dari Shanghai, China, ke Jakarta, Selasa (13/7/2021). Kemudian, pengiriman selanjutnya akan dilakukan secara bertahap setiap pekannya

Bantuan OC tersebut ditujukan kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Kemudian, bantuan akan disalurkan ke berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Tanah Air.

“Kami berharap, inisiatif ini dapat membantu bangsa Indonesia menghadapi lonjakan angka Covid-19 sekaligus menggugah perusahaan lain untuk turut bergabung memberikan bantuan,” kata Managing Director Sinar Mas Saleh Husin.

Selain bekerja sama dengan Yayasan Temasek dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, Sinar Mas juga mempelopori gerakan donasi lintas sektor industri yang berada di bawah naungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) yang disalurkan melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Adapun gerakan tersebut bernama Pengusaha Peduli NKRI.

Inisiator dan Koordinator Pengusaha Peduli NKRI yang juga eks-Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistiyanto mengatakan, total donasi telah mencapai lebih dari Rp 650 miliar. Jumlah tersebut melampaui target yang dicanangkan, yakni sebesar Rp 500 miliar.

Adapun bantuan yang diberikan meliputi peralatan uji cepat (rapid test kit), alat perlindungan diri (APD), alat bantu pernapasan (ventilator), masker bagi para tenaga kesehatan, pusat layanan medis, dan bahan pangan berupa beras bagi warga masyarakat yang terdampak.

Selanjutnya, Sinar Mas menggandeng Indonesian Chamber of Commerce in China (Inacham) untuk berpartisipasi memberikan bantuan alat kesehatan berupa masker N95, masker bedah, dan disinfectant wipes.

Sebagai bentuk solidaritas bagi sesama, Pengusaha Peduli NKRI dan Kadin Indonesia bersama Yayasan Buddha Tzu Chi dalam waktu dekat akan kembali menggalang dana untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.

Rencananya, lembaga-lembaga tersebut akan mendonasikan 35.000 ton beras, ribuan OC, dan sejumlah obat-obatan, seperti Gammaraas, Remdesivir, serta Actemra untuk pasien Covid-19.

Adapun penyaluran bantuan tersebut akan melibatkan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi.

“Fokus kami adalah terus membantu pemerintah menangani Covid-19. Kami mengajak dunia usaha yang bernaung di bawah Kadin untuk bergandengan tangan dan bersatu membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Sulistiyanto.

Keseluruhan bantuan yang telah diberikan oleh Sinar Mas merupakan langkah baik yang perlu dilakukan oleh pihak lain. Sebab, semua elemen masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah harus saling bergandengan tangan untuk menyelesaikan masalah pandemi di dalam negeri.

Board Member of Sinar Mas Franky O. Widjaja berpesan, semua pihak memiliki peran masing-masing untuk mengatasi masalah pandemi. Jangan pernah lelah untuk terus berbagi dan berjuang bersama melawan Covid-19.

“Sinar Mas memang melakukan berbagai hal, tetapi (upaya itu) masih belum cukup. Kita butuh seluruh elemen, kita perlu kebersamaan, dan bersatu untuk menekan penyebaran Covid-19. Mari doakan sahabat, rekan, dan saudara kita yang sedang berjuang melawan sakit,” ujar Franky.

Semoga kepedulian yang telah dilakukan tersebut bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara umum.

Kompilasi program yang telah dilakukan oleh Sinar Mas selama pandemi semoga bisa membantu masyarakat melewati masa sulit.

]]>