Integrated Fire Management – Sinar Mas /blog Tue, 23 Jul 2024 03:00:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.9.1 /blog/wp-content/uploads/2016/10/cropped-sm-250x250-32x32.png Integrated Fire Management – Sinar Mas /blog 32 32 APP Group Siagakan 741 Personel untuk Cegah Karhutla Sumsel /blog/?p=4119 Tue, 23 Jul 2024 02:58:16 +0000 /blog/?p=4119 APP Group melalui PT OKI Pulp & Paper Mills menyiagakan 741 personel untuk ikut andil dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari status keadaan siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ditetapkan oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melalui SK Gubernur Sumsel Nomor 393 tanggal 13 Juni 2024.

Untuk itu, Pemprov Sumsel menyelenggarakan apel dan simulasi karhutla di halaman Griya Agung Palembang pada Sabtu (20/7/2024) dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Kegiatan ini diikuti ratusan personel dari TNI, Polri, instansi/lembaga, dan perusahaan di Sumsel.

“Apel ini adalah wujud kepedulian kita dan menunjukkan kesiapan dari seluruh unsur yang ada di Sumsel dalam mencegah karhutla,” ungkap Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya yang juga memimpin jalannya apel dan simulasi.

Airlangga menambahkan, “Kebakaran besar di lahan gambut menyebabkan kabut asap yang merugikan berbagai sektor seperti kesehatan, perhubungan, dan sosial ekonomi karena gangguan pada jalur transportasi. Kejadian ini perlu ditangani dengan aksi nyata agar dampaknya dapat diminimalisir atau dihilangkan.”

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Managing Director APP Group Suhendra Wiriadinata menyampaikan dukungannya kepada Pemprov Sumsel dalam menanggulangi dan mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan.

“Hal ini merupakan komitmen kami untuk bersama-sama dalam pencegahan karhutla yang juga sejalan dengan Sustainability Roadmap Vision (SRV) 2030 kami,” ungkapnya.

Dalam menanggulangi karhutla PT OKI Pulp & Paper Mills beserta perusahaan-perusahaan mitra pemasoknya, menerapkan strategi Pengendalian Kebakaran Terpadu (Integrated Fire Management/IFM), yang terdiri dari empat pilar yakni Pencegahan, Persiapan, Deteksi Dini, dan Respon Cepat.

GM Fire Management APP Group Sujica Lusaka menjelaskan bahwa pihaknya memaksimalkan dan menambah jumlah fire tower, sehingga hampir seluruh konsesi APP Group dapat terpantau secara maksimal.

“Untuk daerah yang blank spot atau sulit dipantau, dapat dijangkau dengan drone, dimana terdapat 43 menara api dan 63 unit mini tower portable untuk meningkatkan pemantauan,” katanya. Ia menambahkan pihaknya bersama mitra pemasoknya mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada di darat, air, dan udara untuk mendukung upaya pemerintah dalam mencegah karhutla.

“Kami yakin dengan persiapan matang dan kolaborasi kuat antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat, kita mampu mencegah dan mengendalikan karhutla tahun ini,” tambah Sujica.

Saat ini, PT OKI Pulp & Paper Mills dan mitra pemasoknya, telah menyiagakan 741 personel regu pemadam kebakaran (RPK) dan 49 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) di lapangan untuk memastikan kesiapan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, helikopter Bell 412 PT OKI Pulp & Paper Mills disiagakan di Griya Agung. Helikopter ini biasanya digunakan untuk patroli udara oleh TRC yang sudah terlatih, agar api dapat segera dipadamkan dan tidak meluas. Jika diperlukan, helikopter ini juga dapat melakukan water bombing.

Secara keseluruhan, di Sumsel terdapat tiga helikopter yang disiagakan untuk mendukung operasi ini. Untuk patroli air, PT OKI Pulp & Paper Mills dan mitra pemasoknya, memiliki kendaraan amfibi Airboat yang mampu beroperasi di lahan basah. Perusahaan juga menggunakan Situation Room (Sitroom) untuk memantau data hotspot dari satelit secara real-time selama 24 jam. Sitroom pusat berada di fire base yang terhubung dengan sitroom setiap distrik.

“Dengan persiapan yang matang dan kerjasama dengan berbagai pihak, kami optimis pengendalian Karhutla dapat berjalan efektif,” pungkas Sujica.

]]>
APP Sinar Mas Kerahkan 3 Heli dan 800 Personel untuk Patroli Karhutla di Riau /blog/?p=3131 Mon, 22 Feb 2021 05:24:35 +0000 /blog/?p=3131 Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dikhawatirkan akan menjadi bencana besar jika tidak ditangani serius, juga menjadi fokus utama bagi Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

Setiap harinya, sekitar 800 personil dikerahkan untuk melakukan patroli di semua wilayah distrik, guna mencegah terjadinya Karhutla.

Hal itu diakui langsung oleh Fire Operational Management (FOM) Head, Priyo didampingi Humas PT Arara Abadi APP Sinar Mas Wilayah Riau, Nurul Huda.

“Sebanyak 800 orang ini tersebar dalam seluruh Distrik lahan PT Arara Abadi dengan sistem patroli melalui darat, air dan patroli udara. Masing-masing tim itu berkisar paling sedikit 4 orang khusus patroli menggunakan sepeda motor,” kata Priyo, Kamis (18/2/2021) lalu.

Setiap tim yang turun, baik dengan sepeda motor ataupun mobil, tetap membawa peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan langkah awal pemadaman. Bahkan, sesekali Regu Pemadam Kebakaran (RPK) dari APP Sinar Mas juga didampingi dengan MPA, Babinsa saat melakukan patroli.

“Biasanya kalau udah gabungan ini bisa 7 sampai 8 orang dalam 1 tim. Sedangkan untuk menara pemantau itu dijaga dari jam 7 pagi sampai 6 sore,” kata Priyo lagi.

Sesuai dengan harapan pihak manajemen bahwa seluruh distrik PT Arara Abadi zero fire, tentunya ini menjadi target luar biasa yang harus dicapai. Heli juga akan diturunkan sekali dalam seminggu untuk patroli di area yang rawat karhutla.

“Untuk patroli lewat udara, selain dengan drone juga ada dengan heli. Dengan heli ini planing kita melakukan patroli sekali seminggu dengan 12 rute, khusus daerah yang tingkat kerawanan karhutla tinggi. Kemudian kita lakukan evaluasi setiap hari kegiatan patroli ini,” tambahnya.

Patroli menggunakan heli ini, kata Priyo, membutuhkan biaya yang cukup besar. Dimana 1 jam saja, sudah menelan biaya sebesar Rp50 juta, sementara kegiatan patroli selama 5 jam. Artinya, untuk setiap patroli menggunakan heli, perusahaan akan mengeluarkan anggaran sekitar Rp250 juta.

“Jadi heli yang kita pakai untuk patroli ini kapasitas 11 orang dengan 5 jam operasional. Bahkan pilot yang dipakai juga yang sangat profesional, mampu mendarat di medan apapun. Karena kondisi lahan di seluruh distrik tidak sama. Patroli melalui udara sangat cepat untuk mendeteksi terjadinya karhutla, ada 3 heli yang disiagakan,” kata Priyo lagi.

Di beberapa daerah, kata Priyo, ada posko terpadu yang dibuat PT Arara Abadi untuk tempat tim gabungan berkumpul sebelum melakukan patroli.

“Dari evaluasi kita sejauh ini, kebakaran terjadi masih di wilayah klaim masyarakat, yakni daerah kebun sawit. Kalau di tanaman perusahaan sangat jarang. Namun, jika lahan warga yang terbakar itu berjarak 5 km dari lahan konsesi, dan berisiko dengan tanaman perusahaan, maka tim akan turun membantu memadamkan api,” sebutnya lagi.

Dicontohkan Priyo seperti kasus di Siak, karena sangat dekat dengan lahan konsesi dan mengancam terjadinya kebakaran di tanaman perusahaan, maka tim bergerak cepat untuk membantu pemadaman.

“Kita lihat urgensinya. Memadamkan api Karhutla ini tidak mudah, perlu tenaga ekstra dan peralatan yang lengkap, agar api segera padam dan tidak meluas. Apalagi bagi yang patroli dengan Heli itu sangat terasa sekali capeknya mengangkat alat-alat dari heli ke lokasi kebakaran,” kata Priyo.

]]>
Mengintip Sistem Canggih Penanggulangan Karhutla Sinar Mas /blog/?p=2563 Mon, 16 Mar 2020 04:08:44 +0000 /blog/?p=2563 Dua wanita berhijab yang berada di ruangan berukuran 20 meter persegi itu tampak begitu sibuk berkomunikasi dengan seseorang jauh di ujung telepon. Seraya menatap layar komputer, dia memastikan informasi yang diterima terkait laporan titik panas atau indikasi kebakaran hutan dan lahan di sebuah desa di pesisir Riau, tepat dan akurat.

Sementara si wanita berkacamata itu berbicara halus, Deny Widjaya, Fire Operation Manager melototi enam layar LCD TV yang terpampang di dinding. Layar televisi itu terkoneksi dengan beberapa satelit. Masing-masing layar menunjukkan gambar berbeda, mulai dari arah angin, keberadaan titik-titik panas hingga perkiraan hujan.

Semua prasarana berikut peralatan canggih itu didukung dengan sarana tak main-main. Enam helikopter terdiri tiga helikopter kecil jenis Bell serta tiga helikopter berukuran raksasa jenis MI-171 dan Super Puma terparkir di komplek industri Sinar Mas, Kota Perawang, Kabupaten Siak, Riau.

Fire Operation Managemen Head PT Arara Abadi, Deny Widjaya mengatakan sistem manajemen penaggulangan kebakaran hutan dan lahan APP Sinar Mas terintegrasi itu dibangun sejak 2016.

“Sistem tersebut terdiri dari empat pilar, yaitu pencegahan, persiapan, deteksi dini dan respons cepat,” kata Denny kepada Antara di Perawang, Siak baru-baru ini.

Peralatan pemadam kebakaran APP Sinar Mas.

Ia merincikan, untuk tahap pencegahan perusahaan produsen kertas itu telah menyusun area peta rawan kebakaran, baik yang berada di dalam konsesi maupun di luar konsesi perusahaan. Ia menyebutkan, Sinar Mas memiliki 27 distrik lokasi konsesi dengan total luas sekitar 760 ribu hektare.

Namun, selain menjaga lahan konsesi, sistem terpadu perusahaan juga turut menjaga dan mengawasi 1,2 juta hektare lahan di luar konsesi. Kawasan itu adalah batas lima kilometer dari lahan konsesi dan merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga lahan bebas dari api.

“Kita juga bantu mencegah kebakaran lima kilometer dari lokasi konsesi. Itu bentuk sebuah komitmen untuk menjaga lingkungan. Tidak ada regulasi (peraturan pemerintah) yang mengatur ke sana, murni komitmen kita. Ternyata yang kita jaga itu lebih luas dari konsesi kita sendiri,” jelasnya.

Pada tahap pencegahan, Deny juga mengatakan turut membentuk satgas anti kebakaran dan membentuk pos pemantau terpadu. Selain itu, perusahaan juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat, salah satunya melalui pembentukan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

Dia mengatakan saat ini, ada 188 desa yang tergabung dalam DMPA. Masing-masing desa yang berhasil lepas dari Karhutla mendapat kucuran dana hingga Rp250 juta. Namun dengan catatan, bahwa dana itu harus terus digulirkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Perlengkapan penanggulangan kebakaran APP Sinar Mas.

Kemudian pada tahap persiapan, dia mengatakan perusahaan yang berkontribusi mengerek pembangunan Kabupaten Siak dan Riau itu menyiagakan 862 orang regu pemadam kebakaran (RPK).

Sementara pada tahap deteksi dini, dia menjelaskan jika perusahaan juga menyiapkan 17 unit kamera thermal dan CCTV, 46 menara api dan 15 mini tower, 623 pompa air bertekanan tinggi, 103 sepeda motor tracker untuk patroli, 27 pesawat tanpa awak atau drone hingga enam helikopter pengebom air. Semua peralatan ini digunakan untuk melakukan pemantauan api.

Perusahaan melakukan pemantauan titik panas melalui citra satelit yang tersambung ke situation room. Situation room bekerja 24 jam untuk memantau titik panas. Apabila ada perubahan titik panas yang tidak biasa, Perusahaan akan menugaskan tim respons cepat (TRC) untuk melakukan verifikasi lapangan.

TRC yang beranggotakan 43 orang itu merupakan tim khusus atau semacam “Kopassus” nya pemadam kebakaran Sinar Mas. Mereka merupakan tim terpilih dari ratusan RPK. Hanya mereka yang memiliki fisik dan mental baja serta kemampuan khusus yang dipilih untuk menjadi anggota TRC.

Deny menjelaskan bahwa perusahaan akan terus berupaya mendukung visi Riau terbebas dari kabut asap akibat Karhutla seperti yang berhasil dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dia menuturkan pada 2019 lalu, APP Sinar Mas bahkan telah menggelontorkan dana tak kurang dari Rp140 miliar untuk penanggulangan karhutlaberikut biaya sewa enam helikopter membantu penanggulangan Karhutla.

 

Sumber: Antara

]]>
Kisah Srikandi di Tengah Kepungan Asap /blog/?p=2531 Fri, 28 Feb 2020 07:35:27 +0000 /blog/?p=2531 Kaus dan manset menutupi badan serta tangannya, berpadu dengan hijab ungu bermotif bunga menemani dokter Priselia memeriksa kondisi kesehatan para pasiennya. Berbeda dengan kesehariannya bertugas di ruang praktik Eka Hospital Pekanbaru, Riau, dirinya mesti berkeliling menyambangi tiap pos komando Pemadam Kebakaran Hutan di Kawasan Tanjung Jabung Timur, Jambi.

“Setiap harinya kurang lebih 10 petugas (pemadam kebakaran) yang diperiksa,” kenang Priselia ketika bertugas saat musim kemarau tahun 2019 lalu. Dia juga bercerita selalu membekali petugas dengan memberikan vitamin tambahan.

dr. Priselia tengah melakukan penanganan kepada salah satu regu pemadam kebakaran.

Priselia bercerita pengalamannya bergelut dengan asap kebakaran hutan, masker selalu siaga menemaninya, siap pakai kala asap menusuk tajam ke pernapasan.

“Kami kerap meminta tambahan obat-obatan dan juga oksigen portabel. Pada situasi saat ini, lebih efektif membekali petugas lapangan dengan oksigen portabel. Asap yang pekat menyebabkan suplai oksigen ke otak berkurang. Mereka mudah pusing,” ujarnya memberi gambaran akan tugas yang dijalani rekan-rekan prianya, para pemadam kebakaran.

Tak kurang enam bulan telah ia jalani di sana, selama itu pula aktivitasnya adalah naik turun ambulans, melakukan pemeriksaan dari tenda ke tenda.

“Sebetulnya ada beberapa dokter lain, tetapi kebetulan saya yang lokasinya paling dekat. Jadilah saya yang diperbantukan,” tambahnya. Jambi ‘memanggilnya’ setelah lajang yang menyelesaikan studinya tahun 2017 ini memilih meninggalkan Jakarta, kembali ke daerah yang telah ia kenal dengan baik. Setelah seharian melakukan pemeriksaan, saat beristirahat umumnya datang jelang pukul 21 atau 22 malam.

Dokter Priselia tak sendirian, di Baung, Sumatera Selatan, ada dr. Irma Mariany Sitohang (28), Dwi Indah Lestari (25) dan Putri (22) yang juga merabas hutan guna memeriksa kesehatan para pemadam kebakaran yang tengah beraksi ketika karhutla tengah berlangsung sepanjang musim kemarau 2019 lalu.

dr. Irma Mariany Sitohang sedang memeriksa kondisi kesehatan RPK.

“Biasanya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang menyerang mereka. Kami juga bekali dengan obat untuk luka bakar dan obat gatal. Air bersih yang langka membuat mereka berhari-hari tidak mandi. Pakaian basah bercampur keringat yang terus mereka gunakan kadang membuat gatal,” jelas dr. Irma.

Puncak kemarau menandakan tingginya potensi kebakaran lahan, artinya para petugas pemadam mesti bersiaga, tak bebas berpindah, apalagi meninggalkan lokasi. Solusinya, para petugas medis yang aktif mendatangi mereka. Siang itu, Dokter Irma sempat keluar dari jalan utama, lanjut menembus kawasan sisa kebakaran yang tengah dibasahi oleh satu regu pemadam, agar tak kembali membara.

Setelah pemeriksaan, umumnya mereka meminta agar bisa mendapatkan salep obat gatal. Maklum, di sana, air sukar diperoleh dan yang ada pun umumnya jauh dari bersih.

“Saya belajar soliditas, kekompakan dan memiliki semangat yang luar biasa. Itu yang bisa saya contoh dari mereka,” papar Irma yang sebagaimana Priselia, biasa bertugas di Eka Hospital Pekanbaru. Doanya, ia berharap hujan segera turun, menggantikan peluh petugas yang sudah berhari-hari memadamkan api tanpa kenal lelah.

Kadang kala, jalur darat sama sekali tak tersedia, artinya tim medis mesti berpindah ke jalur perairan, berperahu motor melintasi sungai atau kanal. Seperti yang dialami Putri dengan menempuh sekian kilometer menumpang ketinting, sebutan warga setempat bagi perahu kayu bermotor. Serunya, di tengah jalan, petugas yang mendampinginya mendapat panggilan radio untuk membantu pemadaman.

“Petugas naik ke hutan yang terbakar. Mereka bilang, Putri ini ada golok. Gunakan kalau diperlukan. Kami harus bantu pemadaman terlebih dahulu,” kenangnya.

dr. Irma Mariany Sitohang (tengah), Putri (kiri), Dwi Indah Lestari (Kanan) menyusuri sungai menggunakan ketinting.

Seorang diri di kawasan bekas terbakar tanpa tahu kapan akan dijemput sempat meruntuhkan morilnya.

“Saya tak tahan pula. Menangis. Antara cemas dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena hampir dua jam menanti mereka,” ujarnya.

Setelah semua berlalu, dirinya justru mengaku tak kapok dengan aktivitasnya.

Senada, Irma, Intan dan Putri mengaku sebelumnya bukan penikmat aktivitas alam terbuka, namun setelah penugasan lapangan kali ini, mereka merasa tertantang untuk dapat kembali merasakannya.

Puncak musim kemarau 2019, sepanjang Agustus hingga September membuat Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas menyiagakan segenap sumber daya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ada di seluruh wilayah konsesi pemasoknya, mulai dari Riau, Sumatera Selatan, Jambi hingga sebagian Kalimantan. Regu Pemadam Kebakaran atau RPK tak hanya bertugas mengamankan areal konsesi, namun kerap kali melintas jauh. Api tak boleh dibiarkan. Setidaknya, jarak 5 kilometer di luar konsesi masih menjadi ruang aksi mereka.

Penanggulangan kebakaran secara terintegrasi atau dikenal sebagai Integrated Fire Management, IFM – yang memayungi aspek pencegahan, persiapan, deteksi dini dan respons – mengharuskan tak hanya elemen pemantauan, pencegahan serta pemadaman saja yang hadir di lokasi, namun juga para petugas medis. Sosok Priselia, Irma, Dwi dan Putri adalah sebagian diantara mereka yang memiliki kapasitas, niatan, beserta kerelawanan.

 

Kilas Korporasi – Kompas.com

Anda bisa membaca kisah-kisah menarik lainnya dari kegiatan yang dilakukan oleh Sinar Mas dan pilar usahanya di kanal Kilas Korporasi yang dipersembahkan oleh Kompas.com melalui tautan ini.

]]>