Warning: Undefined variable $needReplaceWords in /var/www/html/uzcms/skylinelendingus.com/index.php on line 1355
Program yang diinisiasi oleh Sinar Mas Agribusiness and Food (PT SMART Tbk.) ini, menekankan pendekatan partisipatif dan kolaboratif bersama masyarakat dalam mencegah karhutla.
Jumlah kasus karhutla menurun secara signifikan sejak bencana karhutla hebat yang terjadi pada 2015. Pada tahun 2019, sekitar 99.5% area kebun Perusahaan tidak mengalami kebakaran, hal serupa juga terlihat pada desa-desa binaan di sekitar kebun Perusahaan yang tidak mengalami dampak kebakaran yang signifikan.
“DMPA tidak hanya fokus pada kesiapan perusahaan dari sisi teknis pencegahan dan pemadaman karhutla, namun juga pada pelibatan masyarakat yang merupakan garda terdepan dalam pencegahan dan pemadaman kebakaran,” jelas Agus Purnomo, Managing Director Sinar Mas Agribusiness and Food.
Program DMPA adalah upaya bersama mencegah karhutla tanpa mengesampingkan kebutuhan riil masyarakat. Terdapat tiga pendekatan utama terintegrasi dari program DMPA, yaitu: 1) Pencegahan kebakaran; 2) Konservasi; 3) Ketahanan pangan bagi masyarakat.
Dalam hal pencegahan kebakaran, bersama dengan kelompok Masyarakat Siaga Api (MSA), perusahaan melakukan sejumlah aktivitas kolaboratif mulai dari sosialiasi ke masyarakat, pemantauan titik api, patroli bersama, hingga pemadaman kebakaran lahan yang dilakukan secara bersama.
Perusahaan membekali MSA dengan peralatan pemadam kebakaran standar untuk tindakan pemadaman awal (initial attack) dan secara rutin melakukan peningkatan kapasitas masyarakat melalui serangkaian pelatihan baik secara internal maupun bersama Manggala Agni.
Saat ini, terdapat 1.150 anggota masyarakat menjadi tim Masyarakat Siaga Api dan 40 desa di Jambi, Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan, Tengah, Sumatera Selatan, dan Bangka telah berpartisipasi dalam program DMPA.
Untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat yaitu ketahanan pangan, perusahaan memperkenalkan pola bertani tanpa membakar lahan kepada masyarakat di desa-desa sekitar perusahaan yang disebut Pertanian Ekologis Terpadu (PET). PET menjadi sebuah solusi bagi masyarakat untuk membuka lahan pertanian tanpa membakar dan ramah lingkungan.
Perusahaan menempatkan satu tenaga ahli pertanian untuk mendampingi masyarakat secara intensif dalam kurun waktu tertentu. Masyarakat didampingi melakukan identifikasi sumber daya penting di daerah mereka secara partisipatif, memanfaatkan dan menjaga sumber daya tersebut, serta belajar bersama-sama di kebun belajar atau sering disebut sebagai sekolah lapangan. Setelah sekolah lapangan usai, mereka akan mereplikasi di lahan masing-masing baik secara kelompok maupun individu.
Beberapa komoditas unggulan yang diupayakan masyarakat melalui PET seperti sayur-mayur, ternak, ikan, hingga beberapa produk siap konsumsi seperti jahe merah bubuk. PET telah berjalan di 22 desa yang telah diikuti oleh 470 anggota tani.

Perusahaan juga menjaga dan merawat ekosistem gambut dari ancaman karhutla melaui program rehabilitasi gambut melalui 3 pendekatan utama, yaitu rewetting, rehabilitating, dan revegetating.
Saat ini perusahaan telah mengkonservasi lahan gambut seluas 1150 hektar dengan jumlah pohon yang tertanam yaitu 460 ribu pohon sejak 2017 hingga 2020. Selain sisi teknis perawatan area gambut, kerja juga dijalin bersama tokoh agama masyarakat setempat melalui pelatihan Da’I Peduli Gambut yang merupakan kerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) Nasional, untuk mengedukasi masyarakat setempat pentingnya memelihara areal gambut.
Tidak berhenti di situ, pada awal tahun 2020, Sinar Mas Agribusiness and Food meluncurkan kampanye edukasi pencegahan karhutla dengan memperkenalkan tokoh Rumbun dan Sahabat Rimba dengan tujuan menumbukan kesadaran pencegahan karhutla sejak dini. Edukasi ini memfasilitasi para guru dengan materi edukasi sekaligus metode mengajar yang tepat dalam mengedukasi anak-anak tentang pencegahan karhutla.
Perusahaan telah merangkul dan melatih sekitar 400 guru yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Dan untuk menunjang pengajaran tersebut, Perusahaan telah mendistribusikan sebanyak 5.800 buku cerita Rumbun dan Sahabat Rimba ke sekolah-sekolah yang rawan terdampak karhutla.
Sumber: Sawit Indonesia
]]>Kriteria TOP CSR Awards 2020 menyasar tiga aspek utama, yakni aspek kepatuhan (compliance) terhadap ISO 26000 tentang Social Responsibility, aspek Good Corporate Governance (GCG), dan aspek keselerasan program CSR dengan strategi serta daya saing bisnis perusahaan. Penilaian CSR tak hanya melibatkan pakar dan konsultan CSR, tetapi juga pakar, konsultan dan asosiasi bisnis, termasuk dari pasar modal dan lembaga pembiayaan. Ajang TOP CSR Awards ini mendorong implementasi GCG, karena CSR yang efektif, transparan, dan yang dapat dipertanggungjawabkan, hanya dapat diimplementasikan jika Perusahaan telah menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.
Salah satu program yang selaras dengan strategi bisnis Sinar Mas Agribusiness and Food adalah program Desa Makmur Peduli Api yang diikuti oleh 32 desa di Sumatra dan Kalimantan. Program yang memiliki titik fokus pada tiga bagian utama yaitu Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, Ketahanan Pangan dan Konservasi telah terbukti membantu mengurangi titik-titik api di area operasional Perusahaan maupun pada area-area masyarakat di sekitar kebun, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Terlebih saat menghadapi krisis pandemi COVID-19 dan musim kemarau saat ini, Perusahaan percaya bahwa upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan hanya dapat dicapai jika kebutuhan ekonomi dan pangan masyarakat setempat juga terpenuhi,” tutur Managing Director, Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Agus Purnomo.
Secara spesifik terkait aspek ketahanan pangan, para ahli perusahaan membentuk masyarakat desa dengan mengajarkan teknik pertanian yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Sebagai contoh di beberapa desa masyarakat diajarkan untuk menanam sayur-sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, kacang hijau serta beternak hewan dan budidaya ikan. Kemudian hasil panen atau hasil ternak tersebut dapat digunakan sebagai konsumsi sendiri, sehingga menghemat pengeluaran rumah tangga hingga Rp 300.000 per bulannya dan sisanya dapat dijual dan menjadi penghasilan tambahan bagi para petani hingga Rp 500.000 per kepala keluarga setiap bulannya. Dengan demikian, masyarakat dapat mengembangkan kemampuan sekaligus meningkatkan taraf kehidupan mereka secara mandiri. Program yang berjalan sejak 2017 ini hingga saat ini memberikan manfaat bagi lebih dari 4.000 penerimanya.
Selain dalam bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, perusahaan juga fokus pada bidang Kesehatan dengan mengoperasikan lebih dari 140 klinik di seluruh Indonesia yang sebagian besar berlokasi di pelosok tanah air. Sebanyak 8.600 penerima manfaat mendapatkan fasilitas perbaikan kesehatan anak, vaksin dan perbaikan nutrisi. Dalam bidang Pendidikan, perusahaan juga membekali 2.160 tenaga pendidik berdedikasi tinggi yang mengajar di pedalaman dengan berbagai ilmu dan pelatihan. Ada lebih dari 40.800 murid yang belajar di 280 sekolah yang berlokasi di sekitar area operasional Perusahaan. Hal ini karena Perusahaan percaya fasilitas pendidikan yang memadai dapat menuntun generasi masa depan terbebas dari garis kemiskinan.
Tak hanya memastikan produksi sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, penghargaan TOP CSR Awards 2020 tentu akan semakin memotivasi Sinar Mas Agribusiness and Food untuk terus membantu meningkatkan kehidupan masyarakat di sekitar area Perusahaan beroperasi. “Dampak positif yang signifikan dari pengembangan CSR Sinar Mas Agribusiness and Food yaitu menurunnya angka kebakaran lahan, kebun, dan hutan serta meningkatnya pengetahuan masyarakat untuk memanfaatkan bahan organik sebagai pengganti bahan kimia,” tegas Agus.
Sumber: Info Sawit
]]>“Saya bisa bertani cabai tanpa banyak modal pribadi karena program Desa Makmur Peduli Api memberikan kami satu hektar lahan untuk bertani, bibit cabai, pupuk, mulsa plastik, dan obat-obatan untuk tanaman. Berkat bantuan tersebut, kami dapat melalui berbagai tantangan, seperti musim kemarau, serangan hama, atau permintaan pasar yang tak menentu di masa pandemi, dan tetap berhasil menyambut panen raya,” ujar Untung salah seorang petani Suku Sakai Desa Kuala Penaso, Kamis (2/7).
Dikatakannya, program DMPA merupakan program pemberdayaan komunitas oleh APP Sinar Mas melalui unit bisnisnya. Di Desa Kuala Penaso, program tersebut dijalankan oleh PT Arara Abadi sejak tahun 2018 dan diawali dengan pemberian bibit cabai serta tanah seluas satu hektare.
Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Adat Batin Penaso, Bosniar, bahwa hubungan baik perusahaan dengan warga Desa Penaso sudah terjalin sejak 10 tahun lalu, antara lain lewat kerja sama dalam mengembangkan area tanaman kehidupan untuk budidaya ubi manggalo serta usaha mencegah kebakaran hutan.
“Kami sangat berterima kasih atas adanya program DMPA karena selain membantu meningkatkan kesejahteraan para petani kami, kami juga bisa lebih efektif mencegah dan mengatasi kebakaran. Kami diberikan mesin pemadam api yang dapat dengan mudah kami operasikan apabila terdapat titik api saat musim kemarau. Harapan saya, PT Arara Abadi dapat memperluas program ini ke desa-desa sekitar karena akan sangat bermanfaat,” ujar Bosniar.
Di masa pandemi ini, masyarakat Desa Kuala Penaso juga sangat aktif dalam melakukan pencegahan penularan Covid-19. Karena lokasi Desa Kuala Penaso yang strategis, yakni sebagai titik pertemuan dengan lima desa lainnya di Kabupaten Bengkalis, para warga desa ini pun berinisiatif untuk menyosialisasikan kembali informasi tentang pencegahan transmisi Covid-19 yang mereka dapatkan saat sosialisasi DMPA kepada seluruh warga yang melewati Desa Kuala Penaso.
“Warga pun mendirikan posko-posko pengecekan suhu badan di setiap titik keluar-masuk desa, serta menyediakan sejumlah tempat mencuci tangan, khususnya untuk warga yang baru saja berbelanja di pasar,” ungkapnya.
Kepala Program DMPA dan CD/CSR PT Arara Abadi Wilayah Riau Jos Rinaldi mengatakan, salah satu tujuan program DMPA PT AA-APP Sinar Mas adalah membantu perekonominan dan menyejahterakan masyarakat di sekitar area konsesi perusahaan, agar masyarakat disamping meningkatkan perekonomian mereka melalui usaha pertanian, sekaligus bersama-sama menjaga lingkungan dari praktik dan bahaya kebakaran.
“Dalam implementasi Program DMPA di setiap desa yang berbatasan dengan konsesi perusahaan, Program tersebut dipilih sendiri oleh masyarakat melalui Kegiatan FGD (Forum Group Discution) yang membentuk beberapa kelompok, diantara: Kelompok Peternakan, Pertanian/holtikultura, Perikanan dan UKM,” ungkapnya.
Sumber: Antara
]]>Menurut Sulis, petani jagung penduduk Desa Perawang Barat Kecamatan Tualang Perawang Kabupaten Siak, bahwa penjualan jagung hari ini merupakan hasil panen hari ini.
“Pada hari ini saya memanen jagung lebih kurang dari satu ton, hasil produksi dari lahan setengah hektar lebih ini saya mendapatkan lebih 2 ton jagung. Yang mana lahan ini saya pinjam dari lahan Desa yang masih belum dimanfaatkan. Saya minta izin kepada Pemerintah Desa Perawang Barat,” jelas pria 42 tahun ini.
Sebelum tanaman jagung ini, dia menanam cabai keriting, lalu jagung yang saya dipanen hari ini adalah tanaman selingan.
“Jika saya paksakan terus menanam cabe, hasil panen cabe saya kurang memuaskan, maka setelah panen cabe dengan masa tanam sekitar 6 bulan, maka saya rotasi dan berganti (selang-seling) menanam tanaman lain yang produktif dan menghasilkan seperti jagung manis ini. Untuk membersihkan lahan ini, saya tidak melakukan pembakaran, karena selain dapat bimbingan dari Arara Abadi juga kami sadari bahwa membakar tersebut akan merusak lingkungan dan kesehatan,” sebutnya.
Sulis sebagai petani ini juga sehari-hari berprofesi sebagai pedagang, dari hasil berdagang dan bertani ini, Sulis dapat menyekolahkan dua anaknya sampai perguruan tinggi.
“Anak saya ada dua orang, yang pertama sudah kuliah semester 6 di salah satu perguruan tinggi di Solo-Jawa Tengah pada jurusan pertanian, sementara anak kedua saya sekolah di SMP kelas 2 di Perawang, dengan hasil ini saya menghidupi keluarga saya. Saya berterimakasih kepada PT Arara Abadi yang telah membantu saya dan masyarakat melalui program DMPA,” katanya.
Sementara itu pada kesempatan terpisah Koordinator Program DMPA PT Arara Abadi, Miswanto, yang didampingi oleh Aep Mahmuddin (52) Kepala Forest Protection PT Arara Abadi Distrik Minas-Rasau Kuning kepada media menyampaikan program tanam jagung ini merupakan bagian dari Program DMPA PT Arara Abadi-APP Sinar Mas yang dimulai tahun 2017 lalu.
Di Perawang Barat ini ada empat kelompok yang masuk dalam program DPMA, yaitu: Kelompok Holtikultura, Kelompok UMKM, Kelompok Perikanan dan Kelompok Peternakan
“Sementara Pak Sulis ini masuk kepada kelompok holtikultura, spesialis cabe kriting, dan berkat saran kita agar dilakukan pergantian agar hasil produksi cabe maupun jagung bagus,” jelasnya.
Pada dasarnya Program DMPA yang digulirkan oleh perusahaan PT Arara Abadi untuk daerah-daerah (Desa-Desa) yang berbatasan dengan konsesi Arara Abadi, Perawang Barat termasuk daerah yang berbatasan dengan konsesi perusahaan.
Sementara itu Aep Mahmuddin menambahkan salah satu masalah dalam usaha Pak Sulis ini adalah masalah penjualan, namun berkat bantuan perusahaan, masalah penjualan dapat teratasi.
“Karena tidak sampai 1 jam, jagung 1 ton yang dipanen Pak Sulis ini habis terjual dan dibeli oleh karyawan-karyawan kita (baik karyawan di pabrik/IKPP, maupun karyawan kita yang ada di Distrik), malahan selalu tidak cukup untuk memenuhi permintaan pasar kita, sering jika waktu panen tiba, pembeli (karyawan kita) inden terlebih dahulu,” kata Aep menambahkan.
Masyarakat DMPA dari Desa Dataran Kempas, Jambi berfokus pada produksi jahe merah, dibina oleh PT Wirakarya Sakti (WKS) selaku salah satu unit usaha APP Sinar Mas. Sementara, anggota DMPA di Desa Bahta, Kalimantan Barat yang dibina oleh PT Finnantara Intiga berfokus pada produksi madu kelulut.
“Konsumsi jamu untuk kesehatan adalah bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Kebutuhan tersebut membuka mata pencaharian alternatif bagi masyarakat anggota DMPA,” ujar Corporate Social and Security Head APP Sinar Mas, Agung Wiyono.
“Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan ini dapat meningkat, dan mereka pun dapat meninggalkan praktik agrikultur yang tidak berkelanjutan seperti tebang-bakar. Upaya pemberdayaan ini penting untuk kita lanjutkan, khususnya mengantisipasi musim kemarau yang segera tiba. Tentunya, dengan tetap mengambil langkah-langkah untuk mencegah penularan COVID-19 selama program,” lanjutnya.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turut mengapresiasi dukungan APP Sinar Mas untuk masyarakat selama pandemi.
“Keberhasilan kemitraan yang dikembangkan oleh APP Sinar Mas perlu dicontoh dan dikembangkan di daerah lain karena hal ini dapat membantu masyarakat untuk menciptakan bisnis usaha kecil menengah yang mandiri terutama di masa penuh tantangan ini,” ujar Direktur Jenderal PHPL KLHK, Bambang Hendroyono.
“Direktur Jenderal PHPL akan terus mendorong dan melakukan pembinaan dan kemitraan dengan masyarakat terutama terkait Hutan Tanaman Industri (HTI), baik di lahan gambut maupun mineral. Kami akan terus melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan melalui kemitraan yang saling menguntungkan. Dengan demikian, kami berharap kita dapat menjaga dan mengurangi kebakaran hutan secara signifikan,” tambah Direktur Usaha Hutan Produksi KLHK, Istanto.
]]>Solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah tersebut sejauh ini belum ada yang pasti dijalankan.
Untuk itu, sebuah langkah berkelanjutan telah dilakukan oleh sejumlah desa rawan karhutla di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Masyarakat di daerah ini mulai beralih memanfaatkan lahan tanpa membakar melalui intensifikasi pertanian. Langkah ini menghasilkan simbiosis mutualisme antarwarga dengan lingkungannya. Warga memperoleh penghasilan, sementara lingkungan tetap terjaga.

Warga Kampung Perawang Barat di Kabupaten Siak kini memilih untuk menanam buah-buahan ketimbang memperluas kebun kelapa sawit. Mereka kini punya andalan baru, yaitu buah jambu sebagai primadona pertanian.
Dari hasil jambu putih dan jambu merah, warga Kampung Perawang bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp7 juta per bulan dari kebun satu hektare. Jumlah itu dua kali lipat dari hasil panen sawit, yang hanya Rp3 juta sampai Rp4 juta dari lahan empat hektare.
Melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang didukung oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, para petani tidak hanya mendapatkan bantuan dana bergulir, melainkan juga pendampingan, pemasaran, dan pembeli utama.
Hasil panen jambu merah dari Kampung Perawang Barat tidak hanya dijual eceran, melainkan juga diolah menjadi dodol jambu oleh kelompok ibu-ibu di Kampung Meredan yang juga berlokasi di Siak. Produksi pertanian mengalami diversifikasi yang membuka peluang bisnis baru bagi warga di Siak.

Program DMPA juga mendukung kelompok perempuan Dasawisma Srikandi di Kampung Perawang Barat untuk membuat taman berisi tanaman obat keluarga yang berdiri di lahan bekas pembuangan sampah.
Sementara itu, di Kampung Meredan, ibu-ibu di wilayah ini telah memanfaatkan lahan untuk menanam jahe. Hasil tanaman jahe kemudian diolah menjadi jahe bubuk untuk berbagai olahan makanan atau minuman kesehatan. Produksi jahe pun meningkat dari 30 kg menjadi 120 kg per bulan.
Sumber: Indonesia Inside
]]>Sementara 65 jenis tanaman obat dan rempah terhampar indah di lahan yang berlokasi di RT 06 RW 04 itu. Dasawisma Srikandi, begitu warga setempat menjuluki taman mini tersebut. Seolah oase di padang pasir, taman itu menjadi hamparan hijau nan syahdu di tengah gersangnya kawasan pemukiman yang berada di kota industri Perawang.

Dasawisma Srikandi berdiri sejak Januari 2019 lalu. Dahulunya, lokasi itu hanyalah tempat pembuangan sampah sejak perumahan itu berdiri, 10 tahun silam. Jengah dengan kondisi yang tidak berubah, para ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman itu kemudian mulai melakukan sesuatu.
Fatmawati (38), istri dari ketua RT setempat mengajak rekan-rekannya mulai bergerilya mengajak suami memegang cangkul dan alat pembersih lahan seadanya. “Dahulu tempat ini kotor sekali. Bayangkan, 10 tahun jadi tempat pembuangan sampah,” katanya kepada Antara di Perawang, Siak, Rabu.
Ibu tiga anak ini mengisahkan jika pembersihan membutuhkan waktu hingga dua bulan lamanya. Beragam sampah mulai dari plastik, pecahan kaca, kayu, perabot rumah tangga, hingga popok bayi bertumpuk tak karuan.
“Membersihkan ini saja butuh waktu dua bulan. Bersama suami-suami kami bersihkan secara swadaya,” ujarnya.
Dua bulan berselang, lahan menjadi bersih. Mengingat pembersihan bukan pekerjaan mudah, maka para ibu-ibu rumah tangga di kampung yang merupakan bagian dari Desa Makmur Peduli Api (DMPA) binaan Arara Abadi, unit usaha Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas tersebut langsung bergerak cepat.

Mereka mengumpulkan bibit-bibit tanaman herbal dan rempah yang hasilnya bisa dimanfaatkan warga setempat. Mulai dari jahe merah, bawang putih, temulawak, daun bidara, hingga ceplukan atau Physalis angulata yang kini tengah naik daun karena khasiatnya mereka tancap dan budidayakan.
Setahun berselang, Fatmawati mengaku keberadaan taman itu sangat membantu warga. Terutama untuk mereka yang menderita sakit ringan semacam batuk, kembung hingga demam, bisa langsung mengambil tanaman di sana.
Untuk memudahkan mengetahui manfaatnya, pengelola Dasawisma Srikandi pun melengkapi setiap jenis tanaman dengan keterangan manfaatnya. Misal, daun ciplukan memiliki manfaat antikanker hingga menghentikan pendarahan atau jahe merah bisa mengobati peradangan.
Fatmawati menjelaskan dalam waktu dekat mereka akan kembali memperluas Dasawisma Srikandi dengan tanaman jahe merah karena menurut dia tanaman itu memiliki manfaat sebagai antioksidan untuk mencegah Covid-19.
“Kita berharap upaya ini mendapat dukungan dan bimbingan terutama dari DMPA,” ujarnya.
DMPA merupakan program yang digulirkan APP Sinar Mas untuk mendorong masyarakat beralih ke pertanian yang berkelanjutan serta bagian dari Kebijakan Konservasi Hutan (FCP) berlangsung sejak 2016 silam. Kampung Perawang Barat menjadi salah satu desa yang tergabung dalam program itu.
Melalui DMPA, masing-masing desa yang berhasil lepas dari Karhutla mendapat kucuran dana hibah hingga Rp250 juta. Namun dengan catatan, bahwa dana itu harus terus digulirkan untuk kesejahteraan masyarakat. Hingga saat ini, program DMPA di Riau telah diimplementasikan di sekitar 150 desa, dan memberi manfaat kepada lebih dari 9.600 rumah tangga.
Penghulu Kampung Perawang Barat Faizal mengakui jika program DMPA telah memberikan dampak begitu besar, terutama dari sisi sosial dan ekonomi kepada masyarakatnya. Penghulu atau setara kepala desa berusia 43 tahun itu mengatakan dengan perubahan tingkat sosial dan ekonomi yang lebih baik membuat masyarakat Perawang Barat lebih mencintai lingkungan, termasuk meninggalkan cara-cara membuka lahan dengan membakar.
“Masyarakat kami sekarang banyak aktivitasnya. Membuka usaha sayur, buah, ternak ikan, bebek dengan pendampingan DMPA. Tidak ada lagi yang membakar lahan, sekarang dengan tenaga sendiri. Manual,” katanya.
Faizal mengatakan selain faktor ekonomi, dahulunya masyarakat Perawang Barat membakar lahan karena ketidaktahuan ancaman pidana yang begitu besar jika mulai melakukan pembakaran. Untuk itu, dia mengatakan dengan sosialisasi rutin secara massif oleh DMPA dan pembinaan ekonomi, masyarakat memiliki pola pikir yang lebih terbuka.
“Kami berharap program DMPA dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan,” ujarnya.
Sumber: Antara
]]>Daniel membagi lahan ladangnya ke dalam beberapa area atau jalur untuk menciptakan variasi tanaman sehingga lahan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Hasil pertanian yang sebelumnya hanya digunakan untuk konsumsi keluarga, kini mampu memberikan peningkatan pendapatan. Dari 300 pohon pisang yang berasal dari empat jenis, Daniel memperoleh pendapatan Rp600.000 per pekan. Sedangkan dari cabai dan lada, dia mendapatkan Rp400.000 sebulan. “Dengan kegiatan berladang ini, saya bisa mendapatkan Rp1.000.000 seminggu,” ujarnya.
Tanah warisan orang tua ini dulunya dipenuhi pohon-pohon karet tua berusia puluhan tahun. Kontur tanahnya pun tidak rata, hampir 70 persen landai dengan tingkat keasaman tinggi. Tapi hal itu tidak mengurangi semangat Daniel yang bertekad menjadi petani ladang.

Yang membedakan Daniel dengan para petani di Dusun Sungai Lenger adalah dia telah meninggalkan teknik pembukaan lahan dengan cara dibakar dan berpindah-pindah. Mayoritas petani di sana masih membuka lahan dengan dibakar dan ladang berpindah-pindah karena sudah menjadi tradisi turun-temurun.
“Untuk mengubah perilaku dari pertanian yang berpindah-pindah, maka saya harus membujuk warga secara perlahan-lahan. Harapannya kalau saya bisa mengajak lima KK untuk menerapkan praktik pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB), maka lahan terbakar atau titik api akan berkurang 5 hektare per tahun,” katanya.
Daniel mengenal PLTB melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang diperkenalkan PT Finanntara Intiga, unit usaha Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas di Kalimantan Barat. Program DMPA mendukung masyarakat untuk mengelola lahan dengan metode agroforestri, yakni bercocok tanam tumpang sari hortikultura (sayur dan buah), tanaman pangan, peternakan, dan perikanan. Selain itu, membangun industri kecil-menengah untuk olahan pangan dan kerajinan tangan untuk dijual sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga.
PLTB yang dilakukan Daniel menggunakan metode Sanggau Farming System (SFS). Ada dua prinsip Sanggau Farming System yakni prinsip penghasilan dan prinsip penataan. Prinsip penghasilan dibagi menjadi tiga, yakni tanaman yang bisa memberikan penghasilan harian seperti sawi kampung, mentimun, bayam, pendapatan bulanan seperti pisang, lada, cabai, dan penghasilan tahunan yakni kopi, padi, jeruk, sirsak, durian, nangka, petai, dan jengkol.
Metode ini juga berpegang ada prinsip penataan lahan yang mensyaratkan lima hal, yaitu tata ruang, tata waktu, tata kelola, tata pengairan, dan tata niaga. Dengan metode SFS, produktivitas lahan meningkat sekaligus memelihara kelestarian alam dan lingkungan sekitar. Saat ini Daniel baru bisa mengajak tiga kepala keluarga di Dusun Sungai untuk melakukan praktik PLTB. “Saya berharap dengan membuktikan hasil yang saya peroleh dengan cara seperti ini, warga lainnya juga bisa mengikuti,” katanya.
Sebagai orang pertama dan yang paling konsisten menerapkan PLTB di Sanggau, upaya Daniel mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten setempat. Bersama 12 kelompok tani, dia diminta pendapat dan sarannya oleh Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sanggau yang berencana menerapkan praktik PLTB seluas 300 hektare di tiga dusun pada 2020.
Pria tamatan SMK ini juga diundang menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Pojok Iklim yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 13 November 2019 lalu. Usaha Daniel pun telah mendapat penghargaan Program Kampung Iklim dari KLHK pada 2017 karena memelopori praktik PLTB.
Sumber: Tempo
]]>Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang digagas oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur mulai membuahkan hasil.
Program yang dijalankan sejak pertengahan 2017 tersebut berkontribusi menciptakan kemandirian warga desa dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi maupun keahlian bercocok tanam.
“Dengan adanya program ini, kami tidak perlu lagi mencari pekerjaan di kota, karena kami sudah mendapatkan penghasilan di desa,” ujar Toyo, salah satu petani di Desa Mekar Jaya.
Toyo merupakan salah satu warga yang menerima manfaat program DMPA untuk budidaya kambing. Pria kelahiran 1971 ini membentuk dan mengepalai Kelompok Tani Budi Darma yang memiliki 10 orang anggota. Kelompok tani ini telah menerima bibit awal dalam bentuk 20 ekor kambing pada Maret 2017 lalu dengan sistem bergulir.

“Saat ini, 14 ekor kambing betina sedang bunting dan rencananya anakan pertama akan diserahkan ke kelompok tani. Sementara, anakan kedua akan diserahkan ke BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Setelah itu, indukan akan digulirkan kepada kelompok tani lain,” ungkap Toyo.
Sutrisno (40), warga Desa Mekar Jaya lainnya, membentuk Kelompok Tani Ternak Mandiri yang memiliki anggota berjumlah 14 orang. Kelompok tani yang diketuai oleh Sutrisno ini memilih untuk membudidayakan ikan lele di kolam terpal.
“Dari dulu ingin punya kolam ikan untuk usaha ternak. Kami senang APP Sinar Mas membantu warga desa dengan menyediakan kolam, bibit, dan pakan melalui program DMPA sehingga kami dapat mandiri dan sejahtera,” kata Sutrisno.
Menurutnya, ternak lele Kelompok Tani Ternak Mandiri telah melakukan panen awal dengan hasil mencapai 250 kilogram ikan lele. Hasil ternak tersebut ada yang dijual dengan harga Rp20.000 per kilogram, dan ada yang dibagi kepada para anggota kelompok tani untuk dimakan sendiri.
“Hasil penjualan ikan lele akan kami gunakan untuk investasi kolam lele lagi agar panen ikan dapat bertambah banyak dan anggota kelompok tani dapat lebih sejahtera,” kata Sutrisno.
Berbeda dengan warga Desa Mekar Jaya lainnya yang fokus di bidang pertanian dan peternakan, Sudiyono memilih untuk melakukan budidaya lebah madu. Yono, panggilan akrabnya, memang dikenal oleh warga desa sebagai pakar lebah dan sering diminta warga untuk memindahkan sarang lebah di rumah-rumah warga.
Program DMPA yang masuk ke Desa Mekar Jaya bagaikan gayung bersambut dengan keahlian Yono. Ia terpacu untuk membudidayakan lebah madu dengan mengikuti pelatihan yang difasilitasi program DMPA pada September 2017. Untuk menambah wawasannya tentang lebah, Yono jgua sering mencari informasi dengan berselancar di internet.
“Saya biasanya googling dan menonton video di Youtube tentang bagaimana orang-orang di luar negeri melakukan budidaya lebah,” kata pria yang aktif di media sosial ini.
Yono saat ini memiliki 14 kotak (sarang) lebah dan berambisi untuk meningkatkan jumlah sarang hingga 50 kotak. Pria kelahiran 1972 ini berharap dapat mengembangkan berbagai produk dari lebah selain madu, yaitu royal jelly dan bee pollen.
Di tempat terpisah, Direktur Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Suhendra Wiriadinata mengatakan, program DMPA memungkinkan APP Sinar Mas untuk membantu memberdayakan masyarakat sekitar sembari mengkombinasikannya dengan upaya pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen perlindungan hutan APP Sinar Mas yang tertuang dalam Forest Conservation Policy (FCP).
APP Sinar Mas telah menyiapkan dana bergulir hingga US$10 juta untuk membentuk 500 Desa Makmur Peduli Api hingga tahun 2020 di sekitar dan di dalam wilayah konsesi perusahaan di lima provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Masyarakat desa yang masuk dalam program DMPA akan mendapatkan pelatihan bercocok tanam hortikultura, tanaman pangan, peternakan, perikanan dan olahan makanan. Hasilnya dapat digunakan oleh warga desa untuk dijual ataupun dimakan sendiri.
“APP memfasilitasi dari hulu hingga ke hilir, mulai dari penyediaan alat, benih, pendampingan, hingga membantu memasarkan produk,” kata Suhendra.
]]>PKBM diharapkan menjadi wadah pembelajaran untuk program-progran pemberdayaan bagi masyarakat sekitar, khususnya petani melalui program pertanian yang lestari, kata Pimpinan Perkebunan Sinar Mas wilayah Jambi, Benjamin Josua melalui Humas, Wulan, Selasa.
Fasilitas PKBM tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menjalankan program-program terkait akan dikembangkan dan difasilitasi oleh perusahaan agar masyarakat dapat belajar dan mempraktekkan langsung pola bertani lestari serta mengaplikasikan program yang sesuai desa masing-masing.
Mereka nanti juga akan dibimbingan oleh tenaga teknis dari ahli bidang pertanian yang disiapkan oleh perusahaan, sehingga faslitas PKBM dapat dimaksimalkan pengunaanya oleh warga setempat.
“Salah satu inisiatif penting yang akan kita jalankan tahun ini adalah percepatan implementasi program DMPA ketahanan pangan dengan pembangunan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat untuk desa-desa binaan,” kata Benjamin.
Kemudian lagi diharapkan pusat pelatihan ini akan dapat menjadi solusi bagi masyarakat agar mampu mengolah lahannya tanpa perlu membakar dan diharapkan hal ini juga akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai proyek percontohan akan membangun PKBM yang memfasilitasi tiga desa binaan sekitarnya yang selanjutnya akan dievaluasi dan sempurnakan.
“Kami ingin memberikan contoh yang nyata kepada masyarakat bahwa mereka bisa tetap bertani dan sejahtera tanpa harus membakar lahan,” kata Benjamin.
Sumber: Antaranews.com
]]>